Novel Mau Audit PT GSI, Yusuf Muhammad: Apa Gak Sebaiknya Audit Formula E?

Novel Mau Audit PT GSI, Yusuf Muhammad: Apa Gak Sebaiknya Audit Formula E?

R
Resty

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta – Pegiat media sosial, Yusuf Muhammad menanggapi pernyataan mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan yang ingin mengaudit tes PCR PT GSI.

Yusuf Muhammad mengatakan bahwa bukankah sebaiknya Novel Baswedan mengaudit Formula E DKI Jakarta yang penganggarannya dinilai mencurigakan.

Pasalnya, menurut dia, anggaran Formula E Jakarta itu tiba-tiba turun dari triliunan menjadi hanya miliaran.

“Apa gak sebaiknya Novel audit Formula E yang anggarannya triliunan rupiah itu? Setelah ramai dikritik, eh mendadak berubah jadi 560 miliar,” kata Yusuf Muhammad.

Sebelumnya, Novel Baswedan menyatakan kesiapan dan keinginannya untuk ikut mengaudit bisnis tes PCR oleh PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI).

Sebagaimana diketahui, PT GSI menjadi ramai publik usai Menko Marves, Luhut Binsar dan Menteri BUMN. Erick Thohir disebut terlibat dalam bisnis PCR di perusahaan tersebut.

“Kesempatan untuk bisa mengaudit ini kesempatan yang baik,” ujar Novel dalam konferensi pers Kaukus Masyarakat Sipil di Cikini pada Senin, 29 November 2021, dilansir dari CNN Indonsia.

“Saya dengan kemampuan saya, punya pendidikan auditor juga, saya juga mantan penyidik, saya juga punya pendidikan hukum tentunya saya punya kemampuan untuk analisis dan lain-lain,” tambahnya.

Novel Baswedan yang kini tergabung Kaukus Masyarakat Sipil menilai bahwa

jika PT GSI diaudit, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dapat diungkap dan lebih jauh dapat diusut.

Sepupu Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan ini pun meyakini bahwa audit adalah pintu utama membuka persoalan tersebut.

“Semua orang yang berlaku jahat dengan mengambil keuntungan [dari PCR] ini harus dimintakan pertanggungjawaban,” ujarnya.

Lebih lanjut, Novel Baswedan juga mengaku bahwa pihaknya sudah mengantongi beberapa data sekunder terkait keterlibatan kedua menteri tersebut.

Salah satunya, yaitu mengenai pembuatan laboratorium yang ternyata sederhana dan semestinya bisa didirikan lebih banyak sekaligus merata.

“Ini masalah serius. Tentunya ketika hal sepenting ini dikuasai oleh pihak-pihak tertentu dan kemudian diambil keuntungan untuk pribadi atau kelompok-kelompok tentu ini masalah serius bukan dilihat sebagai hal sepele,” katanya.

Sebelumnya, eks Direktur YLBHI, Agustinus Edy Kristianto mengungkapkan dugaan bahwa Luhut dan Erick Thohir terlibat bisnis PCR.

Edy menyebut keterlibatan Luhut ini lewat PT Toba Bumi Energi dan PT Toba Sejahtera, anak PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).

Sedangkan, Erick Thohir terkait dengan Yayasan Adaro Bangun Negeri yang berkaitan dengan PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Perusahaan ini dipimpin oleh saudara Erick, Boy Thohir.