Nasri Abu dan Liputan tentang Basri Masse

Nasri Abu dan Liputan tentang Basri Masse

HZ
Irfan Ayah Iin
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow
SEKITAR tahun 2000, saya ditugasi kantor tempat saya bekerja, Harian Fajar, untuk meliput Turnamen sepakbola Habibie Cup di Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Pada 2000, turnamen bergengsi itu telah memasuki hajatan ke-11. Sebagai kampiun adalah juara bersama: Perspin Pinrang dan PS Sandeq Polmas. Saya masih ingat, perasaan saya kala itu bercampur aduk. Yang pasti, saya "dumba-dumba". Kepada redaktur olahraga, saya sebenarnya sempat menolak, dengan alasan belum pernah meliput dan nulis bola. Namun, semua alasan yang saya lontarkan dimentahkan. "Banyak ji teman yang bisa kita jadikan tempat bertanya soal sepakbola dan bagaimana menulis bola di sana. Jangan lupa cariki juga wartawan senior Fajar, Pak Nasri Abu." Begitu kira-kira pesan redaktur kepada saya. Saya tak berkutik, dan akhirnya, berangkat juga ke Parepare (dengan masih perasaan cemas). Jadi, Turnamen Habibie Cup ini, merupakan pengalaman pertama saya nulis bola. Sebelumnya, setelah hampir dua tahun bertugas di Kabupaten Wajo dan Bone, Sulsel, saya kemudian ditarik ke Makassar. Di Makassar, saya kemudian ditugaskan meliput di Pengadilan Negeri, di depan Lapangan Karebosi. ... Setelah bertanya-tanya dengan wartawan lokal, saya akhirnya bertemu Nasri Abu di Parepare. Ia menyambut hangat kedatangan saya. Dari segi usia, ia tergolong senior. Kalau bisa menduga-duga, ia saat itu telah berumur awal 40-an, sedangkan saya 25 tahun. Kesan pertama bertemu dan jalan selama dua pekan di Parepare adalah, Nasri Abu orangnya santai, gaul, dan rendah hati. Meski punya pengalaman tinggi di dunia jurnalistik, ia tetap bergaul dengan semua wartawan. Sebagai junior, saya sebenarnya sempat grogi jalan bareng dia. Namun, ia selalu menepis perasaan tersebut. Bahkan, mungkin karena keseringan mendengar keluhan saya tentang tidak tahu mau nulis apa di bola, ia lalu mengejek saya di depan para wartawan dan narasumber yang kami temui dengan istilah: "Ini teman saya. Dia ini dari meja hijau ke lapangan hijau". Meja hijau istilah untuk pengadilan, sedangkan lapangan hijau untuk sepakbola. Tahun berikutnya, kalau saya ditugaskan lagi meliput Habibie Cup, saya pasti mencari Nasri Abu. Saya senang mengobrol dengan dia. Meski menetap di Kabupaten Pinrang, Sulsel, tetapi ia sering jalan-jalan ke Parepare. Jarak antara dua kabupaten ini juga cukup dekat, sekitar satu jam naik mobil. ... Masih ingat Basri Masse yang dihukum gantung di Malaysia? Basri adalah lelaki asal Parepare, yang bekerja di Kinibalu, Sabah, Malaysia, yang pada 16 Februari 1983, bersama Abdul Patta Lubing asal Maros, ditangkap polisi di sebuah taksi yang diparkir di Jalan Terawi, Putatan, Kinabalu. Bersama mereka diamankan barang bukti 935 gram ganja kering dibungkus koran Utusan Malaysia dalam kantung plastik. Tiga tahun kemudian Majelis Tinggi Kota Kinabalu memvonis Basri hukuman gantung. Dia dikenakan pasal 39B Akta Dadah (Narkotika) Berbahaya 1952. Kalau masih ingat kisah itu, Nasri Abu adalah wartawan Sulsel yang meliput langsung dari sana, hingga detik-detik Basri Masse menuju tiang gantungan. ... Hari ini, Minggu, 27 Januari 2019, saya terkejut membaca salah satu postingan teman di fesbuk. Ia menginformasikan Haji Nasri Abu meninggal di Pinrang. Selamat jalan, Pak. Kamu akan selamanya menjadi guru saya. اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْن. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْه Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya-lah kami kembali. Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, tempatkanlah di tempat yang mulia, dan luaskan kuburannya. Aamiin... -- Irfan Ayah Iin