Terkini.id, Tokyo - Nah, Loh! Covid di Jepang Kok Tiba-tiba Turun Tanpa Sebab, Bingung Euy. Penularan dan infeksi virus corona di Negeri Sakura, Jepang tiba-tiba turun drastis pada saat kasus di negara Asia lainnya melonjak tinggi. Hal ini membuat para ahli pun kebingungan.
Infeksi harian baru dilaporkan melambat menjadi kurang dari satu per satu juta orang. Jumlah ini paling sedikit di antara negara-negara besar di Asia, di luar China. Selain itu, tingkat kematian turun menjadi nol dalam beberapa hari terakhir.
Korea Selatan, dengan tingkat vaksinasi serupa mencatat rekor infeksi tertinggi hingga menembus tujuh hari kasus per hari. Begitu juga di Singapura dan Australia, tingkat kasus terus meningkat ketika pihak berwenang melonggarkan pembatasan.
Sebuah hipotesis baru untuk menjelaskan divergensi adalah jenis virus corona yang dominan di Jepang berevolusi sedemikian rupa sehingga memperpendek kemampuannya untuk bereplikasi.
Ituro Inoue, seorang profesor di Institut Genetika Nasional Jepang, seperti dilansir dari Tempo.co, Jumat 12 Desember 2021, mengatakan subvarian Delta yang dikenal sebagai AY.29, kemungkinan memberikan kekebalan kepada penduduk Jepang.
“Saya pikir AY.29 melindungi kita dari strain lain,” beber Inoue di Tokyo.
Kendati demikian, ia mengingatkan penelitiannya baru sebatas teori. Menurutnya, ia tidak 100 persen percaya diri.
Sementara itu, seorang profesor di University of Queensland, Paul Griffin mengatakan kasus di setiap negara berbeda-beda tergantung cuaca, kepadatan penduduk, dan berbagai strategi untuk memerangi pandemi Covid-19.
“Kita memang perlu mencoba dan mengambil pelajaran dari negara lain, tetapi tidak boleh mengasumsikan pengalaman yang sama dari satu negara ke negara lain, karena semua ada variabelnya,” jelas Griffin.
Ia menambahkan, beberapa negara menggunakan strategi selain vaksinasi untuk mengendalikan penyebaran.
“Apakah itu langkah-langkah sederhana tentang kebersihan tangan, jarak sosial dan penggunaan masker dan apakah itu wajib atau sukarela,” ungkap Griffin.
Jepang selama ini tidak pernah melakukan penguncian daerah atau lockdown menjadi ‘solusi’ utama menekan Covid-19, seperti yang dilakukan banyak negara.
“Mengenakan masker dan ritual kebersihan diri masih sama dan penting,” beber Kazuaki Jindai, peneliti di Universitas Tohoku.
Menurutnya, vaksin adalah aspek penting pencegahan tetapi bukan ‘peluru perak’ alias senjata pamungkas.
Kecepatan penurunan kasus corona di Jepang diprediksi adalah masalah waktu. Lambatnya vaksinasi di Jepang justru memberi efek suntikan yang masih kuat. Pendapat lainnya adalah virus cenderung memuncak dan turun dalam interval dua bulan.
Perdana Menteri Fumio Kishida memperketat perbatasan menjelang musim dingin untuk menekan penyebaran virus corona. Ia memerintahkan perbatasan ditutup minggu lalu untuk mencegah varian Omicron.
Apapun penyebab turunnya kasus di Jepang, Kishida mengatakan penting untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Jepang sudah memberi suntikan booster pekan lalu. Pemerintah juga telah meningkatkan kapasitas rumah sakit lebih dari 30 persen.
Pasalnya, beberapa pasien meninggal di rumah selama gelombang kelima pada Agustus 2021 lalu.










