Terkini.id, Makassar - Puncak Milad ke-8 Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) Indonesia, yang dirayakan pada hari ini, 13 Desember 2020 menjadi momen istimewa bagi seluruh members KJB se Indonesia karena hari bahagia itu dirayakan ketika Indonesia tengah dilingkupi wabah Covid-19.
Sebagai bentuk rasa syukur atas perayaan
Milad ke-8 Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) Indonesia ini, pengurus sukses menggelar sebuah acara Pamungkas, yakni Webinar Nasional dengan tema “Menebar Kebaikan Melalui Karya Jurnalistik.
Diketahui ada tiga narasumber dalam acara ini, masing-masing Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi Metro TV, Balques Manisang, News Produser dan Host tvOne, serta Lalita Gandaputri, News Produser Metro TV yang juga merupakan member KJB Indonesia.

Webinar Nasional tersebut berlangsung pada Minggu 13 Desember 2020 disiarkan melalui aplikasi zoom dan youtube Komunitas Jurnalis Berhijab.
Sedikitnya Webinar ini diikuti sekitar 246 peserta, masing-masing dari para members KJB Indonesia, akademisi dari beberapa Universitas, Komunitas dan Masyarakat umum penyuka Jurnalistik.
Presiden KJB Indonesia, Nikmatus Sholikah dalam sambutannya terlebih dahulu mengenalkan komunitas jurnalis yang kini dipimpinnya.
Menurut mantan Jurnalis tvOne tersebut, KJB dibentuk sejak 26 November 2012 lalu. Hingga kini KJB Indonesia sudah memiliki lebih dari 130 member dari jurnalis berhijab dari media cetak, televisi, radio, onlie di beberapa daerah di Indonesia seperti Jabodekatbek, Jogjakarta, Malang, Medan, Makasar, Lombok, Kepulauan Selayar dan dan lainnya.
"Pada milad KJB kedelapan ini kami mengusung yang tema “Menebar Kebaikan Melalui Karya Jurnalistik” dengan harapan dapat meningkatkan tali silaturahmi antar member KJB Indonesia serta meningkatkan pemahaman tentang esensi karya jurnalistik yang berkualitas dan membawa kebaikan,"ujar Nikmah.

Dijelaskan Nikmah, di masa sekarang, banyak masyarakat yang mulai meragukan kebenaran informasi berita yang menjadi produk jurnalistik. Sehingga masyarakat perlu mengetahui, esensi karya jurnalistik yang berkualitas sejatinya bukan hanya sesuai dengan fakta namun bisa membawa dampak kebaikan untuk masyarakat luas.
Nikmah juga berharap perayaan KJB ini dapat membangkitkan self awareness atau kesadaran diri tentang pentingnya karya jurnalistik yang memihak kepada warga.
“Diharapkan perayaan KJB ke depalan ini dapat membangkitkan selft awareness tentang pentingnya karya jurnalistik yang memihak kepada warga (citizen) dan menjalankan prinsip pilar ke 4 demokrasi yang merupakan wujud support sistem atau dukungan terhadap para jurnalis untuk terus menghasilkan berbagai karya jurnaistik yang berkualitas. Karena menurut saya, orang hidup akan menjadi lebih berarti jika kita bisa menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain,” urai wanita kelahiran Malang, Jawa Timur ini.

Acara Webinar Nasional Milad ke-8 Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) Indonesia tersebut turut dipandu oleh Khadijah Alqi Almakiyah.
Dia memperkenalkan dan mempersilahkan ketiga narasumber dalam Webinar Nasional kali ini.
Dimulai dari Pemimpin Redaksi Metro TV, Arief Suditomo. Dalam bahasannya, ia banyak memberikan pesan dan kesan sebagai jurnalis di hadapan peserta dari beberapa daerah di Indonesia seperti, Jabodetabek, Jogja, Malang, Sumbawa, Banjarmasin, Medan, Makasar, Aceh dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.
Sesuai tema yang diusung yaitu menebar kebaikan melalui karya Jurnalistik, Arief menyebutkan bahwa jurnalis harus terus menanamkan jurnalisme kebaikan karena di sekitar para jurnalis terlalu banyak toxic yang membawa kearah negatif.
“Jadi buat temen-temen KJB ini merupakan sebuah silaturahim yang baik pada akhirnya untuk kita sama-sama mengumpulkan energi buat memberikan kontribusi dalam bentuk jurnalisme kebaikan bagi publik kita,"tandasnya.
"Kemudian terus memberikan kontribusi tersebut karena dunia kita ini kadang-kadang perlu konstribusi tersebut ya dalam bentuk jurnalisme kebaikan, terlalu banyak toxic disekitar kita, terlalu banyak problem-problem yang pada akhirnya membawa kita kearah-arah yang sangat negatif," sambung Arief.
Ia juga menyebutkan bahwa semangat menebar kebaikan jurnalistik harus ditanamkan mulai dari keseharian kita.
"Kita sering denger kalau kita berfikir baik maka hasilnya baik, kita membawa masyarakat dengan nilai-nilai positif ini merupakan hal yang baik juga," pungkasnya.
Ia mencontohkan salah satu program di media yang dia pimpin adalah liputan dengan BenihBaik.com.
"Dengan liputan ini kita sekaligus bisa mengajak masyarakat menyumbang dana, tenaga dan bisa membangun beberapa infrastruktur di beberapa daerah di Indonesia. Sehingga kita tidak hanya konsentrasi pada financial sourching atau uang, kita juga bisa menyumbang tenaga dan barang sesuai dengan kebutuhan yang disasar,"jelas mantan anggota dewan perwakilan rakyat ini.

Sementara pembicara kedua adalah Balques Manisang.
Wanita kelahiran Solo ini menyebutkan, menjadi jurnalis bukanlah sebuah kekuatan akan tetapi merupakan sebuah kehormatan.
Balques juga menekankan pentingnya menjadi jurnalis yang mempertahankan peran jurnalis sebagai pilar demokrasi.
Bahkan dia menekankan untuk masing-masing jurnalis juga harus bisa mencari celah menerapkan idealisme sebagai seorang jurnalis.
“Selalu luruskan niat kita bahwa menjadi jurnalis itu menjadi pilar keempat demokrasi jadi pertahankan pilar itu, kita sebagai pilar demokrasi,” ucap Balques.
Kemudian terkait jurnalisme kebaikan, dirinya dalam program Fakta tvOne yaitu program semi investigasi yang dia bawa, banyak manfaat yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dari program tersebut kata dia pihaknya mengingatkan untuk melihat kondisi rakyat sesungguhnya, sehingga bisa menyuarakan pihak yang tidak memiliki kekuatan untuk bersuara dipublik atau voice the voiceless.
“Seperti kasus reklamasi pantai di Jakarta Utara, kita menyuarakan suara para nelayan terkait kesejahteraan mereka. Akhirnya terjadi komunikasi antara nelayan, pemerintah dan perusahaan,"tutur Jurnalis tvOne ini.
"Kemudian beberapa liputan lainnya menunjukan bahwa karya jurnalistik juga bisa memberikan dampak langsung bagi masyarakat," sambungnya.
Sedangkan pembicara ketiga yakni Lalita Gandaputri, seorang news produser Metro Tv juga menekankan tentang wanita berhijab tak perlu takut untuk menjadi jurnalis.
“Dulu awal karir saya sebagai jurnalis yang berhijab, awal tahun 2007 saat itu masih belum banyak jurnalis berhijab karena Jurnalis Berhijab di TV,"bebernya.
Ditekankan Lalita bahwa standart Jurnalis TV melepaskan simbol-simbol agama.
"Tantangan bagi saya, saya pernah tidak diterima karena hijab saya di lingkungan konflik di beberapa wilayah di Indonesia. Namun kondisi sekarang berbeda, kita bisa tetap menunjukan netralitas kita dengan berhijab dan terus memberikan karya jurnalis yang menebar kebaikan,"pungkasnya.
Kemudian Lalita menambahkan, jurnalis memiliki posisi istimewa karena menjadi mata dunia. Dia mengatakan kita mewaliki mata masyarakat yang tidak bisa langsung melihat berbagai peristiwa.
"Kemudian kita sebarkan informasi itu kepada masyarakat sesuai dengan fakta di lapangan. Tugas Jurnalis itu tugas mulia, kita melakukan pekererjaan untuk masyarakat sehingga tanggung jawab kita sangat besar. Kita harus menginformasikan berita yang benar,”tutup wanita yang telah 14 tahun menjadi jurnalis.










