Microsoft Membeli Tik Tok, Dapat Izin Donald Trump?

Microsoft Membeli Tik Tok, Dapat Izin Donald Trump?

Andi Fatima Azahra Irfan

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar – TikTok, juga dikenal sebagai Douyin adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang dluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yiming, pendiri Toutiao.

Aplikasi tersebut membolehkan para pemakai untuk membuat video musik pendek mereka sendiri.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan aplikasi Tik Tok akan dilarang beroperasi bila Microsoft Corp tidak segera mengambil aplikasi ini.

Presiden Donald Trump mengklaim bahwa TikTok akan gulung tikar di Amerika Serikat pada tanggal 15 September jika perusahaan induknya di Cina, ByteDance, tidak menjualnya dan memberi banyak uang kepada Departemen Keuangan Amerika Serikat.

Donald Trump sebelumnya mengatakan akan melarang aplikasi TikTok pada akhir pekan. Pernyataan terbaru Trump muncul setelah rumor TikTok akan diakuisisi oleh Microsoft.

Presiden Donald Trump mengklaim bahwa TikTok akan gulung tikar di Amerika Serikat pada tanggal 15 September 2020 jika perusahaan induknya di China, ByteDance, tidak menjualnya dan memberi banyak uang kepada Departemen Keuangan Amerika Serikat.

Dikutip dari CNN INDONESIA, TikTok mengatakan pihaknya tetap berkomitmen pada basis pengguna Amerika yang besar.

"TikTok dicintai oleh 100 juta orang Amerika karena itu adalah rumah untuk hiburan, ekspresi diri, dan koneksi," kata juru bicara perusahaan Josh Gartner.

Donal Trump mengatakan, Microsoft sedang dalam pembicaraan untuk membeli TikTok yang memiliki sekitar 1 miliar pengguna di seluruh dunia.

Akan tetapi menurut para pejabat Amerika Serikat, aplikasi itu adalah risiko keamanan nasional karena bisa membocorkan jutaan data pengguna di Amerika Serikat ke intel China.

Presiden ke-45 AS itu lalu memberi ultimatum ke ByteDance selaku perusahaan induk TikTok di China, bahwa mereka punya waktu hingga pertengahan September untuk menyetujui penjualan.

Menurut Donald Trump memblokir aplikasi ini dengan alasan keamanan nasional Amerika Serikat, karena mengumpulkan sejumlah besar data pribadi pengguna.