Terkini.id, Jakarta - Pakar hukum tata negara Refly Harun menduga alasan Michael Sianipar keluar dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) adalah karena partai yang seharusnya mengkritik penguasa tapi malah menjadi centeng Presiden Jokowi.
“Yang ingin berontak dari establishment kekuasaan, biasanya anak muda yang tidak mau kemapanan, partai yang mau mendobrak dan menggebrak, tapi ini justru jadi partai yang paling PDIP dibanding PDIP, jadi justru menjadi centeng Presiden Jokowi,” ujar Refly Harun, Sabtu 10 Desember 2022.
Maksud dari pernyataan Refly Harun adalah PSI selama ini selalu memuji pemerintahan Jokowi, padahal PDIP sebagai partai tempat Jokowi berasal turut mengecam isu Jokowi 3 Periode.
Lebih lanjut, Refly Harun menilai kalau partai yang dipimpin oleh Giring Ganesha ini hanyalah partai yang fokus untuk mengecam Anies Baswedan.
“Agendanya cuma satu, mengkritik Anies Baswedan. Jadi partai ini tidak pernah kritis terhadap presiden Jokowi tetapi the rulling party. Ini yang jadi persoalan menurut saya, kok partai anak muda penampilan seperti partai orang tua yang mapan. Tak pernah kritik pemerintahan,” katanya.
“Jadi agendanya cuma mengkritik Anies Baswedan saja dan itu dilakukan pimpinan tertinggi hingga wilayah, ini yang barangkali membuat Michael Sianipar gerah. Dia tidak lagi melihat bahwa ini partai yang memperjuangkan idealisme,” lanjutnya.
Sebagai informasi, Michael Victor Sianipar adalah politikus yang baru saja mengumumkan telah keluar dari PSI.
Keluarnya Michael Victor Sianipar dibenarkan oleh Dea Tunggaesti selaku Sekretaris Jenderal DPP PSI.
"Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (DPP PSI) telah menerima surat pengunduran diri Michael Sianipar dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Jakarta per hari ini, Senin 5 Desember 2022," jelas Dea Tunggaesti.
"Terkait surat itu, DPP PSI menyatakan menerima pengunduran dirinya sekaligus mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan kontribusi Bro Mike selama memimpin PSI Jakarta," paparnya.
Disisi lain, Michael Sianipar menjelaskan bahwa alasannya keluar dari PSI adalah karena sudah tidak sejalan dengan partai bercorak merah putih itu.
"Saya bergabung di PSI sejak tahun 2015, dan pernah juga menjadi pengurus dari tingkat kota hingga DPP. Banyak hal yang sudah saya lakukan bersama rekan-rekan di PSI. Namun dengan berat hati, sudah saatnya saya mengundurkan dari dari partai yang saya cintai ini," imbuh Michael Sianipar.
"Saat saya bergabung di PSI, partai ini masih piringan putih, penuh cita-cita dan harapan. Banyak pemuda tertarik dengan citra yang berhasil kita bangun atas PSI. Kita bangun PSI di Jakarta dari nol, dari tidak dikenal sama sekali hingga menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan di Jakarta,” terangnya.
Sumber: detik.com










