Meski Guru Sudah Vaksin Covid-19, IDI Minta Rencana Sekolah Tatap Muka Dipertimbangkan

Meski Guru Sudah Vaksin Covid-19, IDI Minta Rencana Sekolah Tatap Muka Dipertimbangkan

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Dokter Anto juga menambahkan bahwa seluruh warga sekolah termasuk guru, peserta didik dan staf sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan Covid-19 dipastikan sudah divaksi.

"Idealnya untuk Sulawesi Selatan 1200-1300 setiap hari pemeriksaan swab/PCR di luar pemeriksaan penderita positif Covid-19,"imbuhnya.

"Setelah vaksin persoalan belum selesai sampe di situ, sebab kita masuk ke pendidikan disiplin hidup bersih sehat, penerapan protokol kesehatan 3M secara ketat baik memakai masker, menjaga jarak dengan menghindari kerumunan, mencuci tangan dari rumah hingga ke sekolah,"ujarnya.

"Termasuk mempersiapkan kebutuhan penunjang kesehatan anak seperti masker, bekal makanan dan air minum, pembersih tangan, hingga rencana transportasi harus steril dengan memastikan aman dari penularan Covid-19,"tambahnya.

Menurut Anto, ada tiga poin penting untuk memperhatikan masa depan anak yakni hak anak hidup, hak anak sehat dan hak anak mendapatkan pendidikan.

"Dengan guru divaksin dan peserta didik tidak divaksin, pertanda Covid-19 takut sama anak anak? Tentu tidak sebab dengan varian baru pertama adalah strain Alpha, strain Inggris yang pertama terdeteksi September 2020. Kemudian, strain Beta dari Afrika Selatan dan strain Gamma dari Brasil,"bebernya.

Strain Delta sendiri pertama kali teridentifikasi di India pada Oktober 2020.

Keempat strain tersebut telah terdaftar sebagai "variant of concern" atau varian yang mesti diperhatikan sebab WHO sudah memberi peringatan bahaya mutasi virus ini sehingga saat ini tidak usah liat zona tapi paling penting zona itu berbanding lurus dengan testing di masyarakat sehingga bisa di lakukan tretmen

"Kasus Covid-19 kembali meninggi di beberapa daerah di Indonesia, jangan sampai kita zona hijau tapi hijau semangka di luar kelihatan hijau tapi sebenarnya merah,"terangnya.

Sementara itu, salah seorang orang tua peserta Didik, Rio mengaku lebih setuju sekolah tatap muka dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat. Alasannya sekolah online banyak rusaknya.

"Saya sebenarnya lebih setuju sekolah tatap muka tapi dengan protokol kesehatan yang ketat. Sekolah online banyak rusaknya, karena anak yang seharusnya belum boleh punya HP terpaksa dibelikan,"kata Rio.

"Takutnya juga kalau dia punya HP sembarang yang dia akses yang tidak layak karena kita sebagai orang tua tidak mungkin 24 jam mengawasinya,"tandasnya.