Meski di Tengah Munculnya Varian Omicron, Kemendikbudristek Nyatakan Sekolah Tatap Muka Akan Tetap Dijalankan

Meski di Tengah Munculnya Varian Omicron, Kemendikbudristek Nyatakan Sekolah Tatap Muka Akan Tetap Dijalankan

Helmi Yaningsi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyatakan bahwa sekolah tatap muka pada Januari 2022 akan tetap dilangsungkan meski di tengah munculnya varian Omicron.

“Sepanjang aman, jalan terus,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah Jumeri, Senin 29 November 2021.

Selanjutnya Jumeri memastikan Kemendikbud terus mengkaji dengan seksama setiap perkembangan kondisi kasus Covid 19.

Kemudian, Tim Advokasi Laporan Warga Lapor Covid 19, Firdaus Ferdiansyah sempat menyarankan agar anak-anak mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah munculnya varian baru Covid 19, yankni varian Omicron.

Menurut dia, tanpa adanya Omicron, pihaknya kerap menemukan banyak pelanggaran ketentuan protokol kesehatan selama pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pada 2-3 bulan terakhir.

Berdasarkan data Lapor Covid-19 sedikitnya ada 85 laporan warga sejak 30 Agustus hingga 18 November 2021. Isi laporan tersebut mengeluhkan ketidaksesuaian penyelenggaraan PTM dengan prinsip-prinsip kesehatan masyarakat.

Pelanggaran itu termasuk pelanggaran protokol kesehatan, pemaksaan untuk mengikuti PTM, hingga adanya intimidasi terhadap orang yang peduli protokol kesehatan di sekolah.

Ketiadaan pengaturan teknis, banyaknya pelanggaran, dan pengawasan yang rendah terhadap pelaksanaan PTM terbatas, bisa berpotensi menimbulkan klaster yang terjadi di satuan pendidikan.

Dilansir dari Tempo, Firdaus menyatakan bahwa pihaknya juga melakukan media crawling dari berbagai media di Indonesia.

Hasilnya, sebanyak 868 anak dan 50 tenaga pengajar terinfeksi Covid 19 di sekolah dalam periode 31 Agustus-18 November 2021.

Data tersebut didominasi di tingkat pendidikan menengah (32 persen), dan pendidikan dasar (11 persen).

Selain itu, Firdaus juga menyayangkan belum direncanakannya vaksinasi pada anak usia 6-11 tahun.

“Mestinya bisa ikut diprioritaskan bersamaan dengan vaksinasi kepada lansia,” katanya.