"Sehingga ground breaking [IGP Morowali] ini menjadi sangat bersejarah, sebuah prestasi oleh Vale beserta mitranya membangun proyek pertama yang menggunakan LNG. Apalagi dari sisi perkembangannya, sudah dikenal secara global, sehingga ini tentu saja membuat pemerintah terbantu dalam mendorong hilirisasi mineral," tuturnya.
Sementara, CEO Vale Indonesia Febriany Eddy mengatakan konstruksi fisik IGP Morowali merupakan rangkaian dari upaya perseroan mendukung hilirisasi mineral serta berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian Indonesia.
"Kami senantiasa memastikan segala aktivitas kami sejalan dengan komitmen keberlanjutan lingkungan. Smelter IGP Morowali ini juga menjadi pabrik RKEF dengan emisi karbon terendah kedua setelah smelter kami yang di Blok Sorowako," ujar Febriany.
Dia melanjutkan, pihanya juga telah mempersiapkan fasilitas pascatambang, termasuk kebun pembibitan (nursery) untuk mendukung revegetasi lahan di Blok Bahodopi.
Menurutnya, langkah itu sesuai dengan komitmen pihaknya untuk menurunkan emisi karbon hingga 33 persen pada 2030 dan net zero carbon emission pada 2050 serta komitmen terhadap kepatuhan pada peraturan perundang-undangan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.










