Terkini.id, Jakarta - Adanya wabah Covid-19 cukup mengubah dinamika masyarakat dalam berbagai lini kehidupan, salah satunya pendidikan.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim menilai Indonesia saat ini berada di masa krisis pembelajaran.
Dia mengatakan, situasi pendidikan Indonesia yang demikian tergambar jelas dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) yang belum membaik dan masih jauh dibandingkan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) lainnya.
"Dan 70 persen siswa usia 15 tahun kita berada di bawah kompetensi minimum untuk membaca dan matematika. Makanya ini harus kita sebut sebagai suatu krisis dan membutuhkan solusi yang luar biasa," ujar Mendikbud dikutip dari laman Tempo pada Jum'at, 11 Februari 2022.
Menurutnya, kondisi semacam ini akan menunjukkan adanya kesenjangan besar antarwilayah dan antarkelompok sosial-ekonomi dalam hal kualitas belajar. Setelah pandemi, krisis belajar ini menjadi semakin parah.
"Pada saat pindah ke learning online dan ini salah satu dampak negatif dari corona virus dan kita telah asesmen dan kalkulasi apa sebenarnya dampak learning loss-nya. Kita melihat berdasarkan analisa kita dan juga sudah kalibrasi dengan riset-riset eksternal," tutur dia.
Dia menyatakan bahwa krisis pembelajaran menjadi semakin parah akibat adanya pandemi Covid-19.
Hal ini dapat diindikasi dari berkurangnya kemajuan belajar dari kelas 1 ke kelas 2 sekolah dasar (SD), baik dari segi literasinya maupun numerasi.
Berdasarkan pemaparannya, sebelum pandemi kemampuan belajar selama satu tahun kelas 1 SD adalah 129 poin untuk literasi dan 78 poin nomerasi. Namun setelah pandemi angkanya berkurang signifikan, untuk literasi menjadi 77 dan numerasi hanya 34 poin.
Nadiem menjelaskan adanya angka penurunan kemajuan belajar dalam satu tahun ini untuk literasi setara dengan hilangnya pembelajaran atau learning loss selama enam bulan. Sedangkan untuk numerasi hilang sekitar lima bulan.










