Terkini.id, Jakarta - Merespon invasi Ukraina pada Jumat 18 Maret 2020, melalui pertemuan virtual telepon antara Joe Biden dan Xi Jinping, Amerika Serikat menegaskan tiga hal yang ternyata menimbulkan ancaman dilematis.
Pertama Amerika akan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia, kedua Amerika memberi peringatan terhadap China untuk tidak terlibat memberikan dukungan material terhadap Rusia, ketiga Joe Biden menegaskan, bahwa apabila China terlibat memberikan dukungan terhadap Rusia maka konsekuensinya China akan menghadapi sanksi perdagangan.
Dilansir dari Reuters dalam penulisan media Pikiran Rakyat.com, Sekretaris Gedung Putih, Jen Psaki menjelaskan bahwa maksud sanksi Biden terhadap China mengarah pada ancaman perdagangan.
Mengingat China merupakan salah satu eksportir terbesar dunia. Perbincangan yang berlangsung selama dua jam tersebut terdapat ancaman timbal balik.
Xi Jinping menanggapi ketegasan Amerika dengan mengeluarkan pernyataan bahwa, sanksi tersebut dapat melumpuhkan ekonomi dunia dan menimbulkan kerugian besar. China berperan dalam ekonomi negera-negara dunia.
Sejumlah negara terjalin kerjasama bahkan memiliki ketergantungan terhadap China, untuk itu apabila Amerika menerapkan sanksi tersebut maka konsekuensinya berlaku terhadap ekonomi dunia.
Xi Jinping juga menyebutkan bidang yang akan ternacam krisis serius dalam ekonomi global seperti “perdagangan, keungan, energi, makanan, industri dan rantai pasokan” (Hilmy Farhan, 2022).
Dalam menargetkan China dengan sanksi ekonomi merupakan hal yang dilematis. Amerika membutuhkan pertimbangan yang lebih matang sehingga tidak menimbulkan kerugian mengerikan.










