Terkini.id, Tokyo - Budaya bekerja keras di Jepang rupanya sudah mendarah daging. Di tengah ramainya aksi buruh pada 1 Mei lalu, para pekerja di Jepang justru galau karena diberi libur panjang.
Itu sangat kontras dengan para pekerja di Indonesia, di mana salah satu tuntutan yang ditulis dalam baliho-baliho Hari Buruh kemain, adalah soal jam kerja yang terlalu tinggi.
Di Jepang, pekerja yang mendapat kabar tiba-tiba tentang libur sepuluh 10 hari justru langsung lesu.
Mereka malah kebingungan bagaimana caranya mengisi libur selama 10 hari tersebut.
Untuk diketahui, pemerintah Jepang sebelumnya meliburkan warganya mulai 27 April sampai 6 Mei.
Itu adalah libur menghormati turun takhta Kaisar Akihito, naiknya Pangeran Naruhito, dan libur Golden Week.
Pada May Day lalu, batusan buruh di Jepang melakukan aksi unjuk rasa di Tokyo.
Banyak tuntutan yang dilayangkan pada buruh, nah salah satunya terkait libur selama 10 hari untuk merayakan kaisar yang baru.
Salah seorang pekerja, Seishu Sato mengaku pusing dengan keputusan libur nasional tersebut.
Karyawan perusahaan finansial itu mengaku kebingungan bagaimana menghabiskan liburan sepertiga bulan tersebut.
"Saya bingung kalau tiba-tiba harus libur selama itu," kata pria berumur 31 tahun tersebut.
Semua opsi sudah dipikirkan. Akan tetapi tidak ada yang menarik. Jika berkunjung ke lokasi wisata, dia pasti harus berdesak-desakan dengan ratusan bahkan ribuan wisatawan. Malas rasanya.
Kalau ingin ke luar negeri, ongkos biro travel sudah pasti meroket. "Paling mentok saya menginap di rumah orang tua," ucap Sato kepada AFP.
Bagi para pekerja keras di Jepang, libur panjang mungkin bukan kabar yang baik.
Banyak alasan warga Jepang justru menyimpan lara di libur panjang ini. Pekerja-pekerja sektor jasa seperti restoran dan pusat perbelanjaan bahkan harus lembur.
Mereka sudah pasti kewalahan melayani klien yang meningkat karena liburan. "Bukannya bersantai, saya malah harus bekerja keras selama 10 hari itu," ternag Takeru Jo, seorang pekerja di restoran pizza.