Makassar Terkini Ajak Latihan Menulis Realistis Tanpa Menggurui

Makassar Terkini Ajak Latihan Menulis Realistis Tanpa Menggurui

Subhan Riyadi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id,Makassar-Pelatihan jurnalistis dan open citizen report ini mengundang animo masyarakat, khususnya warganet di kota Makassar. Acara sendiri dipenuhi anak-anak muda yang berbakat di bidangnya.

Fachri Djaman sebagai pemapar materi begitu bersemangat menularkan ilmu jurnalisnya kepada puluhan peserta di warung kopi Bislap 2 jalan Racing Center Makassar pada, Sabtu 21 September 2019 pukul 15.00 wita sore.

Pria berlatarbelakang sarjana teknik ini memilih terjun ke dunia jurnalis, bukan keterpaksaan, lebih karena passion menulis sejak duduk dibangku kuliah, jadi wajarlah, apabila Fachri lebih dikenal sebagai wartawan di makassar.terkini.id ketimbang anak kuliahan kebanyakan.

Dihadapan peserta, Fachri menuturkan, "jurnalis itu tidak boleh beropini sendiri,"

"Sampaikan fakta-fakta itu secara berimbang dan biarkan pembaca yang menilai," ujar Fachri.

Lebih jauh diungkapkan, "tulislah berita berimbang. Jangan berpihak kepada salah satu narasumber, lakukan klarifikasi terhadap keduanya,"

Dikatakan Fachri, "Jurnalis yang profesional itu tidak bisa menyimpulkan sendiri mana benar dan mana salah, biarkan pembaca menilainya."

"Dalam naskah berita sebaiknya tidak mendeskritkan seseorang, menuliskan kata-kata kasar, SARA dan mengandung unsur pornografi," tegasnya.

Puluhan peserta dari berbagai latar belakang ilmu, mulai dari mahasiswa/mahasiswi, jurnalis hingga PNS antusias menyimak pemaparan narasumber.

Semua peserta pelatihan jurnalis yang hadir sepakat menyatakan, acara ini sangat bermanfaaf, sekaligus menambah wawasan.

Sebaiknya dalam membuat berita selalu ingat 11 kode etik jurnalistik, yaitu, pertama, Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Kedua, Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Ketiga, Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Keempat, Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul. Kelima, Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Keenam, Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Ketujuh, Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan. Kedelapan, Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani. Kesembilan, Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik. Kesepuluh, Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa. Kesebelas, Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Ini bedanya mengikuti pelatihan jurnalis di makassar bersama portal online makassar.terkini.id, selain menjalin silaturahmi bersama-sama praktisi "kuli tinta" mengajak citizen writer menulis realistis tanpa menggurui.