Terkini.id, Makassar - Pemerintah Kota Makassar menargetkan kekebalan kelompok atau herd Immunity terbentuk pada Oktober 2021. Program vaksinasi terus digencarkan untuk memenuhi target tersebut.
Saat ini capaian vaksinasi tahap pertama Kota Makassar sudah mencapai 64 persen dari target 1.1 juta penduduk. Sementara vaksinasi tahap kedua sudah mencapai 42,02 persen.
"Akhir bulan 10 kita target bisa mencapai herd immunity," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Nursaidah Sirajuddin, Selasa, 5 Oktober 2021.
Program vaksinasi selama 2 pekan terakhir terus menunjukkan progres. Ida, sapaannya, menyebut ada peningkatan secara signifikan lewat program vaksinasi 100 RT per hari 100 persen.
Terlebih, kata Ida, saat ini telah tersedia suplai vaksin sebanyak 60 ribu dari 114 ribu dosis yang dijanjikan pemerintah pusat.
"Peningkatannya bagus karena cepat sekali. Ini sedikit lagi," katanya.
Vaksinasi Covid-19 Sasar Remaja
Ida mengatakan akan fokus terhadap vaksinasi anak yang berusia 13 hingga 19 tahun. Saat ini vaksinasi terhadap remaja baru mencapai 27,3 persen.
Di sisi lain, Ida berharap masyarakat tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Hal itu untuk mewaspadai varian baru Covid-19.
"Kita harus tetap hati-hati. Upaya pengendalian dilaksanakan terus ini, tidak boleh lengah," sebutnya.
Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto mengatakan progres vaksinasi per hari berada pada angka 0,7 persen. Ia mengatakan butuh dua hari untuk melewati 1 persen.
"Memang belum sampai 1 persen per hari tapi sudah 0,7 persen. Jadi 2 hari bahkan 3 hari sudah bisa lewat 1 persen," ungkapnya.
Saat ini Bed Ocupancy Ratio (BOR) Kota Makassar berada pada 5,4 persen. Danny mengatakan jumlah kasus Covid-19 konsisten berada di bawah 100 per minggu.
"Kita terus minta vaksin ke Provinsi Sulsel dan mereka mendukung," tuturnya.
Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar Wahyudi Muchsin mengatakan herd immunity tidak boleh menjadi tolak ukur utama untuk pelonggaran protokol kesehatan.
Hal ini sekadar menjadi upaya dalam menekan laju kasus Covid-19. Pelonggaran dianggap menjadi hal yang fatal.
Ia mencontohkan negara-negara yang sudah merampungkan vaksinasi Covid-19 namun kasus Covid-19 tetap meningkat tajam.
"Negara maju seperti Amerika, Australia, Singapura mereka vaksinnya sudah maksimal, tapi setelah itu meningkat lagi," terangnya.
Kekebalan kelompok, kata dia, hanya sekadar fase dalam menghentikan Covid-19 secara bertahap, mengurangi jumlah penularan dengan bertambahnya jumlah masyarakat yang memiliki imunitas kuat.
"Jadi kita kan maunya ekonomi, pendidikan dan sebagainya itu dilonggarkan, tapi protokol tetap jalan. Ini kita bersahabat dengan Covid-19 dengan cara seperti itu karena mau tidak mau kita harus hidup berdampingan," terangnya.










