Mahfud MD: Pemimpin Harus Bisa Menyatukan, Nggak Seperti Sekarang Mengerikan

Mahfud MD: Pemimpin Harus Bisa Menyatukan, Nggak Seperti Sekarang Mengerikan

FD
Fachri Djaman

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Sebuh video yang memperlihatkan Menko Polhukam RI Mahfud MD berbicara soal pemimpin di 2024 yang menurutnya harus bisa menyatukan bangsa, viral di media sosial.

Video Mahfud MD bicara soal pemimpin harus bisa menyatukan bangsa itu viral usai diunggah pengguna Twitter BossTemlen, seperti dilihat pada Selasa 26 April 2022.

Dalam narasi cuitannya, netizen itu menyentil pegiat media sosial Denny Siregar terkait pernyataan Mahfud MD dalam video tersebut.

"Bro Dennysiregar7. Pak Mahfud bilang, negara ini hancur2an, gak maju-maju, Pak Jokowi pemimpin lemah, tidak bisa menyatukan, tidak bisa memberantas / mengendalikan korupsi, klo dah begini di negara lain dah di kudeta, loe terima gak pernyataan ini?," cuit netizen BossTemlen.

Mahfud MD: Pemimpin Harus Bisa Menyatukan, Nggak Seperti Sekarang Mengerikan

Dilihat dari video itu, tampak Mahfud MD tengah hadir dalam sebuah perbincangan. Ia pun membahas soal pemimpin pengganti Jokowi di 2024 mendatang.

"Yang harus kita pikirkan bangsa ini pemimpin 2024. Sudah pasti Pak Jokowi tidak lagi (menjabat)," ujar Mahfud.

Menurutnya, pemimpin ke depan haruslah seseorang yang bisa menyatukan masyarakat dan tidak seperti pemimpin yang sekarang.

"Pemimpin yang harus muncul itu pemimpin yang bisa menyatukan. Menjaga keseimbangan dan merekatkan, agar negara ini bisa maju, nggak kayak sekarang waduh mengerikan saya lihat," tuturnya.

Selain itu, Mahfud MD juga membahas soal korupsi saat ini yang menurutnya sudah tidak terkendali.

"Yang kedua, yaitu masalah korupsi. Butuh orang kuat. Ini (sekarang) korupsinya tidak terkendali," bebernya.

Terkait korupsi, Mahfud MD pun menilai penyakit masyarakat itu saat ini sudah menjangkiti semua sektor termasuk aparatur hukum, parlemen hingga birokrasi pemerintahan.

"Pengadilannya begitu, parlemennya begitu, birokrasi pemerintahannya begitu, pengusahanya begitu, semua bekerja dengan cara-cara itu (korupsi)," ujarnya.