Terkini.id, Jakarta - Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi anak usia 6-11 tahun secara resmi dimulai sejak 14 Desember 2021 lalu.
Namun, terhitung sejak pelaksanaan tersebut sudah terdengar beberapa kasus diduga KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang terjadi di Indonesia.
Meski hingga saat ini Komnas KIPI menyatakan bahwa kasus- kasus yang sebelumnya tidak ada kaitannya dengan vaksinasi yang dijalani, namun hal ini tetap menjadi kekhawatiranbagi orangtua siswa.
Kasus KIPI kembali di Kabupaten Cianjur, Bocah PAUD berumur 6,5 tahun dikabarkan meninggal usai menjalani vaksin.
Mengutip dari Kompas.com, ZL, murid PAUD asal Kecamatan Pasirkuda Kabupaten Cianjur meninggal usai menjalani vaksinasi anak.
Bahkan anak yang diduga mengalami KIPI itu, sempat beberapa kali demam tinggi dan kejang-kejang.
Berdasarkan keterangan Sekretaris Dinas Kesehatan Cianjur, Yusman
Faisal, siswa PAUD tersebut menjalani vaksinasi di SD Banyuwangi Kecamatan Pasirkuda, dengan diantar ibunya pada Senin, 17 Januari 2022 pagi.
Setelah menjalani tahap pemeriksaan dan mendapat persetujuan orang tua, anak tersebut pun disuntikan vaksin.
"Vaksinasinya kemarin, pukul 9.30 WIB di SDN Banyuwangi. Sebelum divaksin, siswa tersebut menjalani konseling dan proses screening anak itu tidak memiliki riwayat penyakit dan dinyatakan layak untuk divaksin," tutur Yusman saat ditemui di Posko Gugus Tugas COVID-19, di Jalan Siti Jenab, Selasa, 18 Januari2022.
Sekitar pukul 12.30 WIB, orang tua siswa tersebut melaporkan pada petugas jika anaknya mengalami demam.
Petugas puskesmas pun memberi obat pereda demam dengan dititipkan pada gurunya.
Menurut Yusman, pada pukul 19.30 Wib, ZL kembali mengalami demam hingga kejang-kejang.
Orangtuanya pun segera membawanya ke puskesmas untuk diperiksa.
"Sejak siang mengalami demam hingga malam harinya mengalami kejang sudah ditangani secara medis, mulai dari pemberian obat sampai perawatan di puskesmas," tuturnya.
Yusman mengatakan pada Kamis, 18 Januari2022 pagi, ZL kembali demam dan kejang, sehingga pihak Puskesmas merekomendasikan agar siswa tersebut dirujuk ke RSUD Pagelaran.
Namun, orangtua ZL menolak anaknya dirujuk ke rumah sakit.
"Sekitar pukul 9.00 WIB anak demam dengan suhu 39 derajat. Setelah ada persetujuan dokter spesialis di RSUD Pagelaran, pihak Puskesmas menyarankan agar dirujuk, tapi orangtua anak tersebut menolak," katanya.
Kemudian pada pukul 10.15 WIB, anak tersebut dinyatakan meninggal dunia di ruang IGD Puskesmas.
"Anak meninggal di Puskesmas," ucap Yusman.
Yusman mengatakan Dinkes sudah melaporkan kejadian tersebut ke Komnas KIPI, dan memasukan kejadiannya dalam KIPI berat.
"Untuk saat ini diduga akibat KIPI, tapi untuk pastinya menunggu hasil dari Komnas KIPI. Petugas puskesmas dan Dinkes sudah ditugaskan untuk mencari data dan kronologis tambahan yang nantinya akan dilaporkan ke Komnas KIPI," timpalnya.
Ia menambahkan kejadian tersebut merupakan yang pertama di Cianjur.
Meski demikian, Yusman meminta orangtua untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir, apalagi menjadi ragu anaknya divaksinasi.
"Kejadian KIPI, apalagi hingga meninggal dunia itu persentasenya kecil. Vaksinasi itu ada risiko tapi manfaatnya lebih besar, yakni untuk mencegah penyebaran COVID-19. Jadi para orangtua jangan khawatir," pungkasnya.
Kabar meninggalnya ZL usai jalani vaksin ini pun tersebar dan kembali menjadi sorotan.
Pasalnya, menurut netizen kejadian terulang ini seolah dianggap sebagai hal kecil dan terkesan diremehkan okeh pemerintah.
"Berulang kali kejadian anak2 habis vaksin meninggal dunia, tapi terkesan disepelekan karena kejadiannya berulang..," tulis pengguna akun Twitter bernama @anamoyau.
Mengingat sebelumnya sudah ada beberapa kasus yang serupa, meski penyebab utamanya dikatakan bukan karena akibat vaksin.










