Terkini.id, Jakarta - Marine Le Pen bakal membuat larangan jilbab di muka umum jika ia jadi presiden. Namun bagusnya, takdir membuatnya tak jadi memimpin Prancis. Dan Emmanuel Macron kembali menduduki jabatannya.
Jika Le Pen menerapkan programnya itu, dipandang akan menimbulkan risiko perang saudara di Prancis. Petahana Macron mengecam saingannya karena menggeneralisasikan antara Islam, keamanan, dan terorisme.
Macron memandang bahwa rencana gila Le Pen melarang jilbab di ruang publik justru akan memancing kerusuhan dan kekerasan.
Namun pada akhirnya, Macron melanjutkan periode keduanya untuk memimpin Prancis. Kemenangannya itu dinilai menyelamatkan Prancis dan Eropa dari kisruh seismik, karena pemimpin populis seperti Marine Le Pen.

Selain itu, kembalinya Macron menjadi presiden membuat ketenangan bagi sekutunya. Betapa tidak, Prancis tidak ujug-ujug mengubah kebijakan terkait konflik di Ukraina, dan upaya NATO untuk menggagalkan ekspansi Rusia.
Diketahui, dalam 20 tahun ini Macron menjadi presiden Prancis pertama yang menjabat dua periode, sejak ayah Le Pen dikalahkan petahana Jacques Chirac pada pemilihan 2002.
Kemenangan Macron mendulang suara sebanyak 58,5 persen suara. Sementara itu lawannya, Le Pen mendapatkan 41,5 persen suara.
Le Pen yang kalah justru menyebut hasil pilpres Prancis kali ini merupakan kemenangan yang bersinar.
"Dalam kekalahan ini, mau tak mau saya merasakan sebentuk harapan," ujar Le Pen ditulis Republika, Senin, 25 April 2022.
Sementara itu, dalam pidato kemenangannya Macron bertekad untuk menyatukan perpecahan Prancis. Meredakan kemarahan-kemarahan yang terjadi di negeri itu pun akan jadi upayanya juga.
"Banyak orang di negara ini memilih saya bukan karena mereka mendukung ide-ide saya, tetapi untuk mencegah ide-ide sayap kanan. Saya ingin berterima kasih kepada mereka dan saya berhutang budi kepada mereka di tahun-tahun mendatang," kata Macron.










