Terkini.id, Jakarta - Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas mengkritik cara Densus 88 menangani teroris di Indonesia. Menurutnya, seharusnya para terduga pelaku teror itu diajak diskusi terlebih dahulu.
Kritik terhadap cara penanganan teroris oleh Densus 88 itu disampaikan pimpinan MUI tersebut dalam video wawancaranya yang tayang di kanal YouTube Realita TV, seperti dilihat pada Jumat 19 November 2021.
Dalam tayangan video itu, Anwar Abbas mengungkapkan masalah Densus 88 saat menangani terduga pelaku terorisme.
Menurutnya, salah apabila Densus 88 sebelumnya membiarkan orang-orang terduga teroris itu kemudian menangkap mereka.
Padahal, menurut Anwar, aparat sudah sejak lama mendeteksi orang tersebut berpaham radikal.
"Bagi saya, masalah Densus ini dia sudah mendeteksi ada orang yang punya paham terorisme, dibiarkan terus sampai ditangkap. Kalau saya tidak begitu cara mengurus negara," ujar Anwar Abbas.
Menurut Anwar, seharusnya aparat yang sudah mendeteksi adanya pihak diduga terlibat teroris mengajak yang bersangkutan untuk berdiskusi dan berdialog.
Dengan adanya diskusi dan dialog tersebut, kata Anwar, paham radikal orang-orang terduga teroris tersebut bisa menurun.
"Kalau ada orang yang punya pandangan bertentangan dengan Pancasila, didekatin. Diajak berdiskusi, diajak berdialog, sehingga radikalitas mereka bisa menurun. Tapi ini kan tidak begitu cara penanganannya," tuturnya.
Akan tetapi, lanjut petinggi MUI Pusat ini, aparat Densus 88 malah hanya memantau aktivitas terduga teroris itu terlebih dulu. Baru ketika mereka melakukan aksi teror, barulah mereka ditangkap.
"Kalau ada (teridentifikasi) teroris, dipantau terus, diikutin terus, saat ada bom meledak baru ditangkap. Jangan begitu dong," ujarnya.










