Terkini.id, Jakarta - Anggota Komisi VII Fraksi PDIP Adian Napitupulu menduga terjadinya sabotase yang menyebabkan terbakarnya tangki di Kilang Cilacap pada Sabtu 13 November 2021 lalu.
Sementara itu, pakar petir Institut Teknologi Bandung (ITB) Syarif Hidayat menilai tidak mungkin petir menyebabkan kebakaran tangki Pertamina tersebut, seperti yang disampaikan pihak Pertamina.
Syarif Hidayat tidak yakin sambaran petir bisa sampai merusak dan melubangi tangki kilang minyak Pertamina hingga menyebabkan kebakaran.
Dia menanggapi kesimpulan hasil investigasi Pertamina atas dugaan penyebab kebakaran di kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat, pada Maret lalu.
Seperti diketahui, sepanjang tahun 2021 tercatat sudah tiga kali terjadi kebakaran di Kilang Pertamina. Dan menurut pemerintah, penyebabnya selalu petir.
Kebakaran sebelumnya, terjadi di Kilang Minyak Balongan, Indramayu, Jawa Barat, pada Maret 2021. Sementara, untuk Kilang Pertamina Cilacap, sudah dua kali terbakar di 2021. Pertama pada Juni 2021, dan terakhir pada 13 November lalu.
Menurut Syarif, ketebalan tubuh tangki menipiskan kemungkinan bolong oleh petir. “Saya berpendapat itu tidak mungkin,” ujarnya dikutip dari Tempo, Selasa 16 November 2021.
Dia menuturkan bahwa secara umum, berdasarkan penelitian yang ada dan diakomodir sebagai standar internasional, tebal logam tangki kilang minyak lebih dari 4,85 milimeter. Dengan ketebalan seperti itu, sambaran petir dinilainya kecil kemungkinan sanggup melelehkan atau bahkan membuat tangki di kilang minyak berlubang.
“Kalau iya, kita harus uji dengan sungguh-sungguh sehingga tidak jadi keliru,” kata dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB itu.
Menurut Syarif, yang lebih mungkin adalah badan tangki mengalami kelemahan, penuaan, seperti berkarat, atau bautnya longgar. “Kalau sudah ada bolongnya karena sobek, korosi, atau dibor untuk kebutuhan tertentu, titik itu bisa jadi segitiga api,” katanya merujuk kepada faktor kebakaran dari bahan bakar, oksigen, dan panas yang bisa berasal dari percikan api kecil.
Mekanisme sambaran petir pada kasus tangki kilang minyak, menurut Syarif, ada dua yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pada sambaran langsung, petir misalnya menyasar ke lubang-lubang di tangki minyak yang sengaja dibuka ataupun tidak sengaja.
Adapun secara tidak langsung, petir menyambar di tempat lain. “Biasanya jaraknya cukup dekat atau terkoneksi dengan tangki,” kata dosen di Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan ITB itu. Potensi itu bisa menghasilkan percikan kecil api hingga melalap isi tangki. “Bisa jadi lewat pipa, kabel, itu ada standar keamanannya,” ujar Syarif.
Umumnya, dia menambahkan, lokasi petir yang bisa menyebabkan itu berjarak sekitar kurang dari satu kilometer. Lebih dari jarak itu, kecil kemungkinan bisa menimbulkan percikan api.
Tangki kilang minyak, Syarif menjelaskan, memang lebih rawan terbakar saat tersambar petir. Alasannya, karena tangki punya beberapa akses bukaan yang memungkinkan udara oksigen dan bahan bakar bercampur. “Kalau kebetulan ada titik api entah dari petir, korek api, atau apa pun itu bisa menyala,” ujarnya.
Syarif membandingkan dengan gas alam atau cair yang tangki penampungnya punya akses pengeluaran isi lewat jalur khusus dan bukan di bagian atas. Dengan begitu, risiko tangki gas disambar petir hingga meledak lebih kecil.
Sebelumnya diberitakan TEMPO.CO, Pertamina melaporkan hasil investigasi kasus kebakaran di kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat, dalam rapat bersama Komisi Energi DPR, 28 September 2021. Bersama empat pihak eksternal, mereka mencari penyebab kebocoran tangki dan kebakaran pada dinihari, 29 Maret lalu.
Soal kebocoran, menurut Pertamina, disebabkan oleh sambaran petir travelling pada pukul 23.09 WIB yang memicu degradasi pada dinding Tangki G. Dinding tangki itu lalu menipis sampai akhirnya robek dan bocor. Setelah bocor, kata Direktur Utama Kilang Pertamina International, Djoko Priyono, terjadi kebakaran akibat sambaran petir atau induksi pada Tanki G.
Pendapat ini sejalan dengan dugaan Adian Napitupulu. Adian mengungkapkan, bisa jadi kebakaran tersebut akibat aksi sabotase orang orang yang berkepentingan.
"Kemudian, mungkin tidak, terjadi sabotase? Ya mungkin juga. Oleh siapa? Bisa mafia migas, bisa juga orang-orang lain yang berkepentingan untuk membuat instabilitas. Kenapa? Karena bahan bakar minyak ini kan komponen penting buat industri, buat kehidupan manusia, dan sebagainya," ujar Adian Napitupulu saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat (Jakpus), Senin 15 November 2021 dikutip dari detikcom.
Adian Napitupulu mempertanyakan faktor alam yang dianggap menjadi penyebab kebakaran tangki di Kilang Cilacap tersebut. Pasalnya, kata dia, kilang minyak sebagai objek vital negara memiliki pengamanan yang ketat, termasuk terhindar dari potensi tersambar petir dan cuaca.
"Karena terjadi berkali-kali, kita melihat jangan-jangan tidak cuma karena faktor alam. Mungkin tidak, terbuka faktor-faktor yang lain? Kilang minyak ini kan harusnya masuk kategori objek vital negara ya, pengamanannya itu harus luar biasa. Mengamankan dari sabotase, mengamankan dari bencana alam, dan sebagainya," kata Adian.
Ia mengatakan ada kemungkinan kebakaran kilang minyak Pertamina di Cilacap itu terjadi lantaran adanya sabotase menjelang Pilpres 2024 mendatang. Sebagai informasi, Menteri BUMN Erick Tohir menjadi salah satu nama yang disebut-sebut maju dalam kontestasi Pilpres 2024.
"Kalau sabotase, ini yang menyabotase kelompok ini, kepentingannya ini, ada dugaan ini, terkait sabotase menuju tahapan awal pemilu yang sudah akan dimulai, misalnya awal tahun depan," ujarnya.
Lantaran timbul banyak spekulasi, Adian Napitupulu menuturkan bahwa pihaknya mendesak penyelidikan oleh petugas kepolisian terkait penyebab insiden kebakaran kilang minyak itu.
"Kami akan mendesak agar aparatur negara yang berwenang untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan segera bergerak secepat mungkin. Mengaudit, memeriksa, segala sesuatu. Kenapa? Ini untuk menghentikan spekulasi sehingga tidak muncul spekulasi yang terlalu jauh," ujarnya.
Ia menuturkan, pihaknya menuntut ketegasan dari kementerian BUMN dan mendesak agar direksi kilang dimintai pertanggungjawaban atas terbakarnya kilang minyak Pertamina di Cilacap.
"Kami menuntut ketegasan kementerian BUMN dan direksi Pertamina untuk segera bersikap dan jajarannya yang bertanggung jawab. Yang bertanggung jawab tentunya bukan direksi bagian distribusi, pengeboran, misalnya, tapi ada yang secara spesifik bertanggungjawab terhadap keamanan kilang. Siapa? direksi kilangnya. Dituntut pertanggungjawabannya seperti apa," kata dia.










