Terkini.id, Kabul - Ketuk setiap pintu rumah, anggota Taliban perintahkan warga Afghanistan kembali bekerja. Pasca menggulingkan pemerintahan Afghanistan di bawah pimpinan Presiden Ashraf Ghani pada Minggu 15 Agustus 2021 lalu, Taliban kini mulai memetakan agenda politiknya termasuk menggerakkan ekonomi masyarakat yang stagnan.
Anggota Taliban yang bersenjata mengetuk setiap pintu rumah di seluruh kota Afganistan pada Rabu 18 Agustus 2021, mengatakan kepada penduduk yang ketakutan untuk kembali bekerja setelah gerilyawan mengumumkan mereka ingin menghidupkan kembali ekonomi negara yang hancur.
Hal itu diungkapkan seorang saksi yang tidak ingin dikutip namanya kepada Reuters, Kamis 19 Agustus 2021.
Seperti diketahui, dampak perang 20 tahun antara pasukan pemerintah yang didukung Amerika Serikat (AS) dan Taliban, menyebabkan kemerosotan ekonomi. Aktivitas roda perekonomian juga mandek, khususnya saat Taliban mulai menyerang wilayah-wilayah di sana sebelum merebut Ibu Kota Kabu.
Demikian juga saat pasukan Amerika dan NATO perlahan meninggalkan Afghanistan, yang diklaim berkontribusi terhadap jatuhnya mata uang lantaran kurangnya dolar, telah memicu krisis ekonomi di Afghanistan.
Dalam konferensi pers pertama Taliban pada Selasa 17 Agustus 2021 lalu, Taliban menjanjikan perdamaian, kemakmuran, dan tampaknya menyimpang dari aturan sebelumnya yang melarang wanita bekerja. Kendati demikian, mayoritas masyarakat di sana tetap pesimistis terhadap janji Taliban itu.
Wasima, wanita berusia 38 tahun, seperti dilansir dari Reuters via tempo.co, Kamis 19 Agustus 2021, ia terkejut ketika tiga anggota Taliban dengan senjata mengunjungi rumahnya di kota barat Herat pada Rabu 18 Agustus 2021 pagi.
Mereka tampak mencatat secara detail identitas keluarganya, menanyakan pekerjaannya di sebuah organisasi bantuan dan gajinya, serta menyuruhnya untuk kembali bekerja.
Wasima, yang menyaksikan konferensi pers Taliban dengan kedua putrinya, mengatakan khawatir kesempatan bagi wanita akan berkurang di bawah Taliban, bahkan jika mereka sekarang mendesaknya kembali bekerja.
“Taliban mengatakan wanita harus bekerja, tetapi saya tahu pasti peluang itu akan menyusut,” imbuhnya.
Senada Wasima, puluhan orang mengatakan kepada Reuters ada kunjungan mendadak dari Taliban dalam 24 jam terakhir, dari Ibu Kota Kabul ke Lashkar Gah di selatan dan utara Mazar-i-Sharif.
Mereka semuanya tidak ingin membeberkan nama lengkap mereka kepada pihak Taliban, lantaran takut terhadap pembalasan yang bakal dilakukan suatu saat.
Selain mendorong orang untuk bekerja, beberapa anggota Taliban mengatakan mereka juga merasa pemeriksaan tersebut, dirancang guna mengintimidasi dan menanamkan rasa takut terhadap kepemimpinan baru Taliban di Afghanistan.
Seorang juru bicara Taliban tidak segera menanggapi permintaan komentar atas kunjungan tersebut usai dikonfirmasi Reuters.
Banyak bisnis di ibu kota Kabul tetap tutup, dan sebagian besar kota telah ditinggalkan sejak Taliban merebut Kabul pada Minggu 15 Agustus 2021.
Satu-satunya lalu lintas utama di ibu kota yang biasanya padat adalah di bandara. Di sana, warga mencoba melarikan diri dari negara itu dengan penerbangan evakuasi diplomatik.
Sebanyak 17 orang terluka di bandara Kabul pada Rabu, dan Taliban mengatakan mereka menembak ke udara untuk membubarkan kerumunan.
Pada konferensi pers Selasa, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan gerakan Islam sedang mencari hubungan baik dengan negara-negara lain untuk memungkinkan kebangkitan ekonomi dan keluar dari krisis.
Akan tetapi, beberapa orang skeptis terhadap janji Taliban, yang selama pemerintahan mereka sebelumnya dari 1996-2001 mendiktekan wanita tidak boleh bekerja, juga anak perempuan tidak diizinkan untuk bersekolah. Selain itu, Taliban juga memberlakukan hukuman kerasa seperti rajam di depan umum.
Presenter Shabnam Dawran mengatakan dalam sebuah video yang dibagikan di Twitter pada Rabu, ia dipecat dari pekerjaannya di Radio Television Afghanistan milik negara.
“Mereka mengatakan kepada saya, rezim telah berubah. Anda tidak diizinkan, pulanglah,” ungkapnya.
Saat dikonfirmasi Reuters terkait hal itu, Taliban dan organisasi berita di sana itu tidak merespons atau mengomentari insiden tersebut.










