Terkini.id, Makassar - Ketua Asosiasi Usaha Hiburan Makassar (AUHM), Zulkarnain Ali Naru memperkirakan 32 persen tempat hiburan di Kota Makassar bangkrut.
Ia mengatakan tempat hiburan tak memiliki pemasukan sekitar 19 bulan lamanya. Selain itu, pengusaha tempat hiburan juga tetap harus membayar sejumlah kewajiban bagi para pekerja, termasuk pajak dan tanggungan kredit.
"Saya prediksi lebih dari 32 persen yang tutup dari jumlah 102 usaha. Entah karena bangkrut atau tutup sementara saja, yang jelas dampak dari pandemi ini sangat terasa, bukan saja bagi para pengusaha melainkan juga para pekerja yang menggantungkan hidup para usaha-usaha hiburan," kata Zul, sapaannya, Senin, 4 Oktober 2021.
Usaha hiburan seperti karaoke umum, karaoke keluarga, kafe, resto dan bar atau Pub gulung tikar. Ia menduga pengelola tidak lagi mampu membayar uang sewa bangunan dan juga perawatan peralatan.
"Jadi memang kondisinya sudah sangat berat untuk para pengusaha tempat hiburan saat ini. Kalau pun masih ada yang bertahan itu pun hanya yang besar-besar saja dan hanya yang memang memiliki tempat usaha sendiri, bukan mereka yang kontrak atau bayar sewa tempat usaha," sambungnya.
Menurut Zul, tak banyak yang bisa dilakukan para pengusaha bisnis ini. Selain, bertahan hidup dari aset dan tabungan yang dimiliki.
"Pengusaha bertahan paling dari aset atau tabungan yang ada saja sekarang," ujarnya.
Namun, yang lebih memprihatinkan justru para karyawan dan pekerja profesi di bisnis hiburan ini.
Zul mengatakan dari total sebelumnya 4.214 karyawan, kini yang eksis hanya sekitar 3.814 orang. Selebihnya terpaksa harus mencari kerja pada bidang usaha lain karena usaha mereka ditutup atau bangkrut sejak masa pandemi Covid-19.
"Mereka yang masih eksis ini, termasuk karyawan dan kalangan disc jockey (DJ) serta komunitas pemusik, yang sehari-harinnya masih punya penghasilan dari sektor lain," sebutnya.
Zul mengatakan sudah banyak karyawan yang menjual aset pribadi seperti TV, atau barang elektronik lain, kompor, sepatu, hingga helm untuk bertahan hidup.
"Dijual semua, kompor dijual, sampai sepatu dan helm saja mereka dijual untuk bertahan hidup. Apa yang mereka dapat hari itu, pasti habis buat hari itu juga. Mereka tidak lagi bisa menabung," tutupnya.










