Sejumlah warga yang bermukim di lorong 03 Jalan Rappocini Makassar percaya, cara terbaik untuk meredam aksi tawuran adalah dengan membuat mereka sibuk berkreativitas. Warga pun menjalankan program sosial berkelanjutan dari Astra, dengan membentuk KBA Burasa.
JERIKEN-jeriken berisi minyak goreng bekas disusun berderet di sebuah lorong kecil menuju Posyandu di Jalan Honda Scoopy Kelurahan Rappocini, Makassar, 27 September 2019 lalu.
Beberapa langkah di depannya, Dana (50) tengah sibuk menimbang minyak bekas yang disetor para warga di lingkungan itu. Ya, minyak goreng bekas yang biasa juga disebut minyak jelantah itu dihargai Rp1.840 per liter di lorong ini.
“Daripada dibuang jadi limbah, bisa mengotori kanal dan mencemari lingkungan,” cerita Dana kepada terkini.id. Usaha minyak limbah yang bernama Bank Minyak Jelantah itu merupakan bagian dari lorong Kampung Berseri Astra (KBA) Burasa di Makassar.
Warga sudah menjalankan usaha Bank Minyak Jelantah itu sejak 2018 lalu. Kata Dana, sudah ada 70 rumah tangga yang menjadi ‘nasabah’ minyak jelantah di KBA Burasa itu. “Ada 2 RW yang sudah rutin menyetor minyak. Kita harap RW lain juga ikut menjadi anggota bank minyak jelantah ini,” kata dia.
Meskipun minyak bekas itu bernilai rupiah, pengelola Bank Minyak Jelantah tidak menebusnya dengan uang. “Kita bayar pakai minyak baru. Jadi, setiap lima liter minyak jelantah yang disetor, kita bayar dengan 3 pieces minyak baru (ukuran air gelas kemasan 250 ml) yang nilainya Rp9.200,” kata dia.
Dengan dukungan Astra, Bank Minyak Jelantah menjalin kerja sama Gen Oil, sebuah perusahaan pengolahan limbah minyak bekas menjadi bahan bakar subtitusi yang dirintis anak muda Makassar.
Gen Oil yang menerima minyak jelantah itu untuk diolah dan disalurkan menjadi bahan bakar mesin kapal nelayan.
Bank Minyak Jelantah setidaknya sudah membuat got-got di lorong itu bebas dari kandungan limbah minyak. Sebagian ibu-ibu juga sudah mendapat aktivitas tambahan, yakni menabung minyak bekas dan antre di lorong Scoopy itu.
[caption id="attachment_187606" align="alignnone" width="863"] Warga menyambut pengunjung di KBA Burasa pada 27 September 2019 lalu.(terkini.id/hasbi)[/caption]
Tak jauh dari lorong Scoopy, anak-anak berpakaian adat sedang beraksi mempertunjukkan tarian “Ganrang Bulo” kepada para pengunjung KBA Burasa. Aksi tarian yang khas dengan membunyikan bambu itu mereka tunjukkan dengan lihai. Rupanya mereka sudah melewati latihan yang panjang di Sanggar Seni Rappocini.
“Anak-anak ini sudah sering tampil di sejumlah acara perusahaan, terakhir tampil di acara Astra Motor,” kata Koordinator Kampung Berseri Astra (KBA) Burasa, Wanny.
https://www.instagram.com/p/Bzs1sV5HXu8/
Sanggar Seni Rappocini yang terletak di RT 003 RW 001 itu rutin menempa bakat dan kreatifitas anak-anak di Rappocini. Berbagai alat dan fasilitas berkesenian, disiapkan oleh Astra. Dengan latihan yang rutin dan undangan tampil di berbagai acara di sejumlah perusahaan, diharapkan Sanggar Seni ini terus tumbuh melatih lebih banyak lagi anak anak dan remaja.
Dahulu Sering Tawuran
[caption id="attachment_187609" align="alignnone" width="807"] Aktivitas sejumlah anak di Taman Pendidikan Alquran KBA Burasa, 27 September 2019.(terkini.id/hasbi)[/caption]
Bank Minyak Jelantah, Posyandu serta Sanggar Seni melengkapi ekosistem kehidupan di Kampung Berseri Astra (KBA) Burasa di Rappocini. Program lainnya yang melengkapi empat pilar KBA, yakni Lingkungan, Kesehatan, Pendidikan dan Pemberdayaan Ekonomi antara lain UKM Rotan, Bank Sampah hingga Taman Pendidikan Alquran (TPA), mengubah perwajahan lingkungan ini. Membuat warganya kini lebih sibuk berkreatifitas dibanding melakukan hal-hal negatif.
“Dahulu, ini daerah perang. Anak-anak muda di Rappocini ini terkenal sering tawuran, pakai busur. Sekarang setelah menjadi KBA, perlahan masyarakat mulai sadar dan melakukan kegiatan positif,” kata Ketua LPM Rappocini, Sultan Daeng Liwang.
Sultan merasa sangat bersyukur, KBA telah mengubah hidup banyak orang di lorong 03 Rappocini itu. Bahwa setelah masyarakat disibukkan dengan aktivitas yang kreatif bahkan bernilai rupiah, mereka pun tidak berminat lagi untuk berbuat rusuh.
Cara Menjadi Kampung Berseri Astra
Daeng Liwang pun bercerita perjalanan panjang untuk menjadi KBA dan mengembangkan pilar-pilar KBA tersebut.
“Tahun 2015, Astra masuk dan menyalurkan program sosial berkelanjutan di sini. Kemudian diberi nama KBA Burasa yang berarti ‘Budaya Rappocini Sehat dan Aman’,” katanya.
Salah satu alasan dipilihnya lingkungan itu menjadi KBA, karena warga bersama para tokoh masyarakat, ketua RT dan RW setuju dan mendukung program tersebut.
Perjalanan untuk menjadi KBA ini juga berkat dukungan berbagai pihak, khususnya Pemerintah Kota Makassar yang telah mengusulkan lorong Rappocini itu ke Perusahaan Group Astra.
Astra menilai, lorong itu berpotensi untuk menjalankan program Sosial Berkelanjutan Astra karena sudah punya basis untuk mengembangkan 4 pilar program (Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan). Masyarakatnya juga dinilai bisa berkolaborasi mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif demi meningkatkan kualitas hidupnya.
“Salah satu kesuksesan kita adalah menghadirkan bank minyak jelantah yang kemudian mendorong lahirnya Perwali Makassar terkait minyak jelantah. Kita gencar promosi lewat media sosial, bahkan pada 17 Agustus tahun lalu kita gelar lomba pengumpulan Minyak Jelantah. Sekarang 153 LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) di Makassar mengelola minyak jelantah ini,” kata dia.
Saat awal-awal membangun usaha minyak jelantah itu, Daeng Liwang sempat kewalahan lantaran fasilitas dan SDM yang mengelola masih minim.
“Beruntung, kita mendapat dukungan dari Astra berupa fasilitas jeriken dan penampungan minyak jelantah,” katanya.
Sebanyak 70 keluarga di lorong KBA pun sudah menikmatinya. “Ketika mereka setor 5 liter minyak jelantah, 25 persen di antaranya kembali dalam bentuk minyak baru,” katanya.
Kini, KBA Burasa terus berkembang menjadi lebih baik, mendukung semangat Astra #KitaSATUIndonesia khususnya memenuhi 4 pilar itu. Ketua Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Sulsel, Devo Kaddafi mengungkapkan apresiasinya yang besar.
“KBA ini sukses mengubah pola hidup masyarakat menjadi kampung yang bernilai ekonomi. Dahulu di daerah ini identik dengan perang busur, sekarang sudah berubah. Ini menjadi bagian dari gerakan #IndonesiaBicaraBaik,” katanya.