Terkini.id, Jakarta - Belum lama ini, orang sakti dari Bali, Pedungan, Denpasar Selatan, yakni Jro Paksi Penyumbu Ring Perepan Sari, memberikan tiga peringatan keras untuk sang pawang hujan Mandalika, Rara Isti Wulandari alias Mbak Rara.
Nah, salah satu peringatan keras yang ia layangkan untuk Rara adalah bahwa seharusnya pawang hujan tak boleh menerima bayaran.
Seperti diketahui, kehadiran Rara dalam gelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, beberapa waktu lalu sukses mencuri perhatian publik.
Hal itu lantaran sang pawang dari Bali berdarah Jawa kelahiran Papua itu berusaha memindahkan hujan di atas langit Sirkuit Mandalika.
Banyak orang yang kemudian memuji aksi Rara, tetapi tak dimungkiri bahwa tak sedikit pula yang justru mencibir.
Bahkan teguran pun banyak dilayangkan. Salah satunya datang dari orang sakti di Bali, Jro Paksi Penyumbu Ring Perepan Sari.
Ya, ia ikut mempertanyakan aksi Rara memamerkan kelebihannya memindahkan hujan di depan banyak orang.
Dilansir terkini.id dari JPNN pada Rabu, 23 Maret 2022, setidaknya ada tiga peringatan keras dari Jro Paksi untuk Rara. Berikut selengkapnya:
1. Kode Etik Pawang Hujan
Menurut Jro Paksi, kode etik yang wajib dipegang pawang hujan sejatinya lebih utama membantu kegiatan keagamaan atau manusia.
Aksi Rara Istiati Wulandari alias Mbak Rara pada MotoGP Indonesia 2022 pun mendapat peringatan keras darinya.
"Semua yang berpacu di Mandalika adalah Kuda Besi. Tak perlu ada pawang hujan, mereka sudah tahu ban motor apa yang harus dipakai saat hujan atau panas," tutur Jro Paksi.
2. Tidak Boleh Terima Bayaran
Pawang hujan katanya tidak boleh menerima pekerjaan dengan alasan mengejar bayaran semata.
Menurut Jro Paksi, ada tugas mulia lainnya yang harus dijunjung tinggi oleh seorang pawang hujan.
3. Bukan Ajang Pamer Kesaktian
Bagi Jro Paksi, keahlian mengendalikan hujan dan panas bukanlah untuk dipamerkan ke orang lain.
"Maaf, saya tidak tahu saya sakti atau tidak, tetapi teknologi kekinian jadi faktor utama dalam sebuah kegiatan atau tujuan."
Aksi pamer itu juga katanya untuk menghindari jika gagal dalam menjalankan tugasnya, semisal hujan masih turun.
"Apa pun ritualnya, itu usaha seorang pawang mengendalikan hujan, tetapi harga diri jatuh kalau hujan tetap turun."
Oleh karena itu, Jro Paksi menilai ajang seperti MotoGP tidaklah perlu menggunakan jasa pawang hujan.
"Sebuah ajang dunia yang ditonton jutaan mata penggemar, MotoGP tetap melaju walau saat hujan atau panas," tandasnya.










