Terkini.id, Jakarta - Pengamat politik, Rocky Gerung menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyoroti soal kelangkaan tempe tahu serta harganya yang melonjak di pasaran.
Rocky Gerung mengaku tak habis pikir mengapa Jokowi sampai harus mengurusi tempe tahu.
Ia pun menyebut bahwa urusan kedelai tidak bisa diselesaikan Jokowi yang menurutnya tak paham dengan kedelai.
"Soal kedelai ini tak bisa diterangkan oleh orang yang nggak bisa bedakan kedelai dan keledai," kata Rocky Gerung dalam konferensi pers Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang digelar secara daring pada Selasa, 12 Januari 2021.
Mengutip Hops.id, Rocky Gerung juga menyindir pidato Presiden Jokowi dalam rapat pembangunan pertanian di Istana Merdeka, Senin 11 Januari 2021.
Rocky lagi-lagi mengaku heran dengan Jokowi yang dalam pidatonya itu malah mempertanyakan mengapa subsidi pupuk sebesar Rp 30 triliun tidak juga mendatangkan hasil.
"Ini pertanyaan yang nggak perlu dikeluh-kesahkan. Begini kalau berpolitik pada kegagalan intelektual kepemimpinan," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan masalah tahu tempe berikut kedelai tak menjadi persoalan lagi di Indonesia.
Jokowi pun meminta agar masalah mengenai bahan baku tahu tempe serta kedelai harus diselesaikan dengan pembangunan pertanian yang detail.
"Kita tahu bahwa beberapa minggu terakhir ini urusan yang berkaitan dengan tahu dan tempe, kedelai jadi masalah," kata Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2021 di Istana Negara, Senin, 11 Januari 2021.
Presiden menilai, bahan baku tahu dan tempe bagi Indonesia yang belum sepenuhnya swasembada menjadi penyebab bagi persoalan kelangkaan tahu tempe di pasaran.
Padahal, kata Jokowi, penduduk Indonesia jumlahnya sudah lebih dari 270 juta jiwa sehingga persoalan mengenai langkanya bahan pangan akan menjadi masalah yang sangat serius termasuk tahu dan tempe dari bahan baku kedelai yang sebagian besar masih impor.
Oleh karenanya, Jokowi menekankan pentingnya pengelolaan yang berkaitan dengan pangan harus ditangani dengan sangat serius.
"Pembangunan pertanian harus diseriusi secara detail. Terutama saya ingin menggarisbawahi komodiitas pertanian impor. Kedelai, jagung, gula, ini yang masih jutaan-jutaan, jutaan ton. Bawang putih, beras, meskipun ini sudah 2 tahun kita enggak impor beras. Saya mau lihat betul apakah konsisten bisa dilakukan tahun-tahun mendatang," ujarnya.










