“PAK Prabowo, saya ini gemar naik sepeda. Sering rantai sepeda saya putus,” ujar Pak Jokowi di akhir rangkaian sesi debat semalam, “Tetapi yakinlah, rantai persahabatan dan persaudaraan saya dengan Pak Prabowo tak akan pernah putus. Apapun yang terjadi.” Sambungnya.
Di bagian akhir debat yang panas dan sengit itu, bisa saja Jokowi melancarkan pukulan terakhir yang mematikan. Sepanjang debat, ia jauh terlihat menguasai konsep-konsep seputar ideologi, pemerintahan, hankam dan politik luar negeri. Tak berhenti di tataran konseptual, Jokowi juga menawarkan berbagai solusi konkret sekaligus visi yang lebih optimistis untuk masa depan Indonesia.
Namun, meski berada di atas angin, ia memilih untuk merangkul alih-alih memukul. Bak seorang ‘debater’ ulung, ia ubah haluan permainan ke wilayah yang sulit ditolak dan diantisipasi lawannya. Alhasil, Prabowo masuk ke dalam irama yang dimainkan Jokowi. Meski sempat beberapa saat sebelumnya terlihat agak emosional, Prabowo melunak dan melancarkan janji yang sama untuk selalu menjaga silaturahim dan persahabatan. Debat malam itu berakhir dengan sebuah pelukan. Hangat.
Kita bisa bersilang pendapat tentang siapa yang lebih baik dalam debat semalam. Bagi yang mendukung Jokowi tentu menilai Jokowilah pemenangnya, untuk yang mendukung Prabowo juga sebaliknya. Tetapi, saya ingin mengajak kita untuk naik sedikit dari konteks pertarungan pilpres. Apa yang paling dibutuhkan bangsa ini sebenarnya?
Saya kira bangsa ini membutuhkan optimisme. Kita harus berhenti merasa kerdil atau terbelakang, merasa terus-menerus dijajah dan tidak bisa bersaing dalam konteks global. Kita perlu segera sembuh dari ‘inferiority complex’. Sungguh bangsa ini adalah bangsa yang hebat dengan banyak prestasi yang terukir di dinding-dinding peradaban. Sejauh yang saya tahu, tak ada satupun negara yang saat ini meremehkan Indonesia dalam pergaulan Internasional. Tak ada.
Ilmuwan-ilmuwan kita menyumbangkan kontribusi bagi perkembangan sains, inovasi dan teknologi modern. Seniman-seniman kita besar namanya di mancanegara. Militer kita disegani. Prestasi-prestasi kita di berbagai bidang mulai menjulang. Kita perlu menumbuhkan ‘the Indonesian pride’, kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Jadilah orang Indonesia yang kau mau dunia melihatnya! Sebab Indonesia itu keren. Tak tertolak.
Di tengah situasi di mana kita sendiri merasa inferior, tidak percaya pada kemampuan bangsa kita sendiri, selalu merasa berada dalam situasi yang ‘berbahaya’ atau ‘terjajah’, sesungguhnya kita tak memerlukan pemimpin dengan visi militeristik dan konfliktual. Kita perlu lepas dari semua keraguan dan ketakutan semacam itu. Kita butuh pemimpin yang menawarkan visi kemajuan, visi melayani, dan kesediaan untuk mengayomi semua pihak.
Untuk itulah saya melihat visi Jokowi tentang ‘Pemerintahan Dilan’ memenuhi dua kebutuhan ini. Pemerintahan digital selaras dengan ide pemerintahan terbuka (open government) yang lebih bartisipatif—melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan-kebijakannya. Juga sejalan dengan konsep ‘government 4.0’ yang mengikuti ‘zeitgeist’ atau semangat zaman ini—pemerintahan yang transparan, cepat, terintegrasi efektif dan efisien.
Visi pemerintahan yang ‘melayani’ juga penting. Menjadi kepala negara, kepala pemerintahan, adalah tentang menjadi penglima yang terus giat bekerja tanpa lelah melayani masyarakat. Kita tidak memerlukan pemimpin yang menjadi ‘simbol kegagahan’ atau ‘simbol kekuasaan’ dan ‘simbol tuan’. Sebaliknya, kita butuh pemimpin dengan karakter ‘bocah angon’—karakter yang dengan segala kerendahatiannya siap bekerja tanpa lelah mengabdi dan melayani.
Saya kira debat semalam memberikan kita gambaran yang jelas, pemimpin dengan visi seperti apa yang paling relevan dengan kebutuhan bangsa kita saat ini. Apakah pemimpin yang tenang, penuh percaya diri dan memberi kita kepastian dengan kerja-kerja yang dilaksanakannya. Ataukah sebaliknya? Anda yang bisa menjawabnya.
Tentu kita boleh berdebat soal ini. Bahkan mungkin bertengkar—baik di dunia nyata maupun di dinia maya. Siapa yang paling baik dan tepat untuk memimpin bangsa ini lima tahun lagi? Jokowi lagi atau mau coba Prabowo? Yang jelas, Jokowi dan Prabowo pasti lebih dewasa dari kita para pendukungnya. Keduanyanya sudah sama-sama tahu. Keduanya sudah sama-sama mengerti bahwa kontestasi ini adalah sebuah medan ‘fastabiqul khoirot’, berlomba-lomba dalam kebaikan, untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.
“Saya tahu dan yakin Pak Jokowi seorang yang Pancasilais,” Kata Pak Prabowo, “Saya yakin Pak Jokowi seorang nasionalis. Saya juga yakin Pak Jokowi seorang patriot.” Sambungnya.
Saya #BerdiriBersamaJokowi
Tabik!
FAHD PAHDEPIE — penulis buku ‘17 Alasan Memilih Jokowi-Amin di 17 April’. Buku bisa didownload di sini: