Terkini.id, Jakarta - Sismono Laode selaku Ketua Relawan Bala Anies Baswedan menjawab sindiran Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terhadap jagoannya itu dengan mengungkit kerugian yang saat ini sedang dialami oleh Pertamina.
Sismono Laode berpendapat bahwa sindiran Ahok kepada Anies Baswedan merupakan tanda bahwa ia sedang stress memikirkan kerugian Pertamina.
Lebih lanjut, Sismono Laode kembali mengingatkan publik soal janji Ahok yang menyatakan bahwa Pertamina akan mendapatkan keuntungan selama berada di bawah kepemimpinannya.
"Katanya kalau mimpin Pertamina, mata merem aja udah untung. Buktinya, dipimpin sebagai komisaris utama, tetep ngutang dan bermasalah,” ujar Sismono Laode, Jumat 11 November 2022.
"Soal sindiran Ahok, ya bebas. Dia kan lagi frustasi mikirin Pertamina yang rugi melulu," lanjutnya.
Kemudian, Sismono Laode meminta Ahok agar tidak berusaha untuk menutupi kegagalan Pertamina dengan menyeret nama Anies Baswedan.
"Jadi, jangan mengalihkan kegagalan Pertamina dengan berusaha menyindir Anies. Ini kan memalukan," katanya.
"Jadi, Ahok ini hanya berupaya menyembunyikan kegagalannya,” sambungnya.
Sismono Laode menilai Anies Baswedan memang pantai berbicara dan juga merupakan pemimpin yang cerdas.
"Anies pandai bertutur kata, ya pasti. Tapi tak hanya itu, Pak Anies juga pandai memimpin dan membangun masyarakat yang sejahtera,” tuturnya.
Sebagai bukti bahwa Anies Baswedan pemimpin yang membuat masyarakatnya makmur, publik dapat melihat pembangunan Jakarta yang menurutnya setara dengan kota-kota besar di Negara Barat.
Tidak hanya soal pembangunan, Sismono Laode turut merasakan kedamaian ketika Anies Baswedan menjadi orang nomor satu di Jakarta.
"Tak ada lagi pemimpin yang mulutnya kayak comberan, maki-maki orang, kata kasar pada rakyatnya. Damai saat Pak Anies,” ucapnya.
Ia menerangkan selama Anies Baswedan memimpin Jakarta, mantan Menteri Pendidikan ini selalu mengedepankan tiga prinsip yaitu bagaimana menarasikan gagasan, kerja atau karya.
"Tiga hal itu dilakukan secara konsisten. Jadi, tidak hanya kerja tapi gagasan lupa hingga akhirnya Jakarta amburadul," ungkapnya.
Sumber: wartaekonomi.co.id










