Terkini.id,Makassar – Kicauan pengguna akun sosial media facebook memang kerap mengundang perhatian netizen. Apalagi jika pengunggahnya adalah salah satu tokoh publik dipastikan akan semakin memanas untuk ditanggapi warga net.
Seperti yang dilakukan oleh salah satu Anggota DPRD Bulukumba fraksi PKB, Fahidin HDK yang mengunggah kondisi pelayanan RSUD Sultan Daeng Radja pada media sosial pribadinya berupa facebook @Fahidi hdk pada Selasa, 6 Agustus 2019.
Berikut ini cuitan Fahidin yang disertai dengan foto sedang mendorong kursi roda di RSUD Sultan Daeng Radja.
[caption id="attachment_168254" align="alignnone" width="540"] status Fahidin HDK[/caption]
Lumayan jadi perawat di UGD. Dini hari bukan waktu yang tepat mengantar orang sakit di RSUD Bulukumba kecuali Anda berani dan ikhlas cari kursi roda atau brankar sendiri untuk mengantar pasien masuk UGD. Klakson keong mobil tiga kali rupanya tidak menjadi tanda ada pasien. Semoga pelayanan RSUD semakin baik dan prima. Bukan kata kata!
Pasca unggahan tersebut, warga net ramai ramai mempertanyakan seputar status anggota DPRD tersebut. Redaksi TERKINI.ID mencoba mengkonfrmasi terkait unggahan Fahidin ke akun pribadinya itu.
Crew TERKINI.ID berhasil mendapatkan sejumlah penjelasan terkait hal tersebut.
Menurut Fahidin, ia mengaku pertama-tama menyampaikan keprihatinan yang mendera RSUD mulai dari turunnya tipe walaupun sifatnya hanya sementara sampai kepada pelayanan yang terus menerus bermasalah.
“Pelayanan ini sering kali disampaikan kepada saya melalaui bentuk aspirasi di DPRD dan saya sebenarnya sudah sering kali melakukan hal yang sama tetapi masih bisa menahan diri untuk tidak menyampaikan ke publik,” ujarnya.
Dijelaskan pula bahwa tadi malam itu kebetulan setelah ia melakukan rapat dan tentu semalam kurang tidur dan tentu semalam juga tidak tidur untuk persiapan dirinya ke Jakarta untuk salah satu diberi tugas ke Kementerian Kesehatan untuk melakukan lobi dan meyakinkan ke kementerian bahwa RSUD Sultan Daeng Radja Bulukumba itu tidak seperti yang diberitakan sehingga diturunkan tipenya.
“Tapi pada dini hari istri saya menangis kesakitan karena ada masalah di punggung dan sesak nafas. Pukul 02:30 wita saya antar ke Rumah Sakit. Setiba di UGD tampak sepi pasien ada saya liat dua atau tiga orang lalu klakson tiga kali dan klakson mobil saya itu besar sekali tapi tidak ada yang berupaya mendekati,” urainya.
Masih lanjut anggota dewan empat periode ini mengaku dirinya berinisiatif mengambil kursi roda lalu mendorongnya masuk UGD. Nanti setelah di UGD mendapat pertolongan dan saya lihat banyak sekali mungkin perawat atau dokter saya tidak tau dan langsung dilakukan perawatan sesuai SOP.
“Yang saya kritik adalah kenapa tidak pernah berhenti pelayanan ini bermasalah. Ini pelayanan pertama seharusnya kalau ini yang terjadi ke masyarakat tidak bisa dibayangkan. Saya meyakini bahwa aspirasi masyarakat itu benar-benar terjadi dan itu menimpa saya. Karena itu saya mengambil sikap untuk mempublikasi apa yang saya rasakan,” terangnya.
Kata dia kritikan ini ditujukan kepada bupati dan wakil bupati serta manajemen, DPRD agar pelayanan rumah sakit itu memastikan itu agar perlu dibenahi dan memang bersoal.
“Saya tidak tahu kenapa bisa terus seperti ini karena itu perlu saya sampaikan dalam pandangan fraksi karena kalau RDP itu sudah berkali-kali dilakukan. Bahkan dua hari sebelum kejadian ini, itu sudah disampaikan depan DPRD bahwa pelayanan ini sudah baik, tapi faktanya seperti itu makanya kita mengkritik jadi bukan mencari sensasi. Di sisi lain saya ingin menyampaikan fakta dan ingin melihat kebaikan masyatakat Bulukumba,” pungkasnya.
Menanggapi kicauan anggota DPRD Dapil 1 (Ujungbulu-Ujungloe-Bontobahari) ini mendapat beberapa komentar. Salah satunya adalah tokoh masyarakat Andi Baso Riyadi Mappasulle.
Menurut Andi Adi sapaan akrabnya mengtakan seorang anggota dewan berkicau di sosial media bisa saja, tetapi jangan hanya bisa berkicau di sosial media tanpa tindaklanjut yang kongkrit sebagai kapasitasnya anggota dewan.
Rumah Sakit Umum Daerah Bulukumba kata Andi Adi sangat sering berpolimik dengan persoalan dan kasus yang berbeda-beda, tapi sampai hari ini juga belum ada tindakan-tindakan yang taktis baik itu sebagai sangsi atau efek jera bagi petinggi-petinggi RSUD Sultan Daeng Radja Bulukumba maupun langkah-langkah kongkrit yang taktis untuk perbaikan pelayanan publik di bidang kesehatan dari Eksekutief, legeslatif dan dewan pengawas RSUD.
“Harusnya saudara Fahidin sudah harus peka untuk melakukan tindakan-tindakan kongkrit kapasitas sebagai anggota dewan dengan kondisi pelayanan publik yang dilakukan dan dikerjakan oleh RSUD Sultan Daeng Radja Bulukumba yang sering bermasalah belakangan ini,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Bulukumba, AM Sukri A Sappewali juga menyayangkan seorang anggota dewan perwakilan rakyat ngoceh seperti itu di media sosial. Bupati dua periode ini juga mengatakan seharunya Fahidin selaku anggota dewan tidak seperti itu karena oknum petugas, kalau bisa teelpon langsung Direkturnya.
“Saya sayangkan ada anggota DPRD yang ngoceh seperti itu di Medsos. Harusnya sebaga anggota dewan tidak seperti itu. Ini cari popularitas murahan Pahidin,”tutup Sukri.