Insiden Berdarah Stadion Kanjuruhan Malang Jadi Sorotan Media Asing

Insiden Berdarah Stadion Kanjuruhan Malang Jadi Sorotan Media Asing

I
Indah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Pertandingan sepak bola antara Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang menjadi sorotan media asing lantaran kerusuhan yang mengakibatkan ratusan jiwa meninggal dunia.

Diketahui laga antara Arema FC melawan Persebaya berakhir dengan skor 2-3 dimana Arema FC adalah pihak yang harus mengalami kekalahan.

Kecewa tim sepak bolanya kalah, pendukung Arema FC alias Aremania langsung menerobos masuk ke lapangan sehingga timbul kegaduhan di dalam Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Irjen Nico Afinta selaku Kapolda Jawa Timur mengatakan saat ini jumlah korban tewas dalam insiden berdarah di Stadion Kanjuruhan, Malang mencapai 127 orang.

Lebih lanjut, Irjen Nico Afinta mengatakan diantara korban meninggal dunia terdapat dua anggota polisi.

Jumlah korban yang tewas di Stadion Kanjuruhan Malang berjumlah 34 orang, sedangkan sisanya meninggal di sejumlah rumah sakit setempat.

Irjen Nico Afinta juga memprediksi korban meninggal dunia dan luka-luka terus bertambah karena berdasarkan data masih ada 180 orang lainnya yang sedang dirawat secara intensif.

"Masih ada 180 orang yang masih dalam perawatan. Dari 40 ribu penonton, tidak semua anarkis. Hanya sebagian, sekitar 3.000 penonton turun ke lapangan," ujar Irjen Nico Afinta, dikutip dari suara.com jaringan terkini.id, Minggu 2 Oktober 2022.

Tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang ini termasuk dalam sejarah kelam dunia sepak bola Indonesia.

Melihat ratusan orang meninggal dunia dalam sebuah pertandingan sepak bola, membuat media asing turut menyoroti insiden ini.

Beberapa media dari Inggris seperti Mirror, Daily Star, Daily Ekspress dan The Guardian turut memberitakan kejadian mengenaskan di Stadion Kanjuruhan Malang.

Media asing Inggris, The Guardian menyebutkan insiden berdarah ini terjadi karena pendukung Arema FC yang tidak menerima kekalahan mereka.

"Perkelahian kabarnya dimulai saat ribuan suporter Arema berhamburan ke lapangan usai timnya kalah. Pemain Persebaya langsung meninggalkan lapangan, namun beberapa pemain Arema yang masih berada di lapangan juga ikut diserang," tulis The Guardian.

Sementara Daily Ekspress dan Daily Star menulis korban tewas dalam perkelahian yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang mencapai 100 orang lebih.

Media Inggris Mirror menyatakan insiden berdarah di Stadion Kanjuruhan Malang memakan korban hingga 127 orang dan juga terdapat gas air mata di tempat kejadian.

Lain halnya dengan media Amerika Serikat, New York Times yang menganggap kejadian kerusuhan sepak bola di Indonesia, seperti peristiwa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang sudah tidak asing lagi.

Bahkan New York Times berujar tindakan kekerasan antara pendukung sepak bola Indonesia bukan masalah yang baru untuk Indonesia.

"Beberapa tim bahkan memiliki klub penggemar dengan apa yang disebut komandan, yang memimpin pasukan pendukung untuk pertandingan di seluruh Indonesia. Suar sering dilemparkan ke lapangan dan polisi anti huru hara selalu hadir di banyak pertandingan," imbuh New York Times.

"Kekerasan sepak bola telah lama menjadi masalah bagi Indonesia. Kekerasan, seringkali persaingan mematikan antara tim-tim besar adalah hal biasa," lanjut New York Times.