Ini Mitos Pemicu Kanker yang Dibantah Dokter, Apa Saja?

Ini Mitos Pemicu Kanker yang Dibantah Dokter, Apa Saja?

Effendy Wongso

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Ini mitos pemicu kanker yang dibantah dokter, apa saja? Adalah hal yang wajar jika banyak dari kita yang mengkhawatirkan berbagai gejala kanker sebagai penyakit dengan risiko yang tinggi. Pasalnya, tidak jarang kekhawatiran ini berujung pada pembentukan asumsi-asumsi yang tidak berdasar sama sekali.

Dokter dari Medical Center Kompas Gramedia dr Santi berusaha meluruskan mitos-mitos kanker yang beredar di kalangan masyarakat dalam siaran program radio Health Corner Sonora beberapa waktu lalu.

Seperti dilansir dari sonora.id, Minggu 3 Oktober 2021, salah satu mitos tersebut adalah mi instan menyebabkan kanker.

Santi menegaskan, pernyataan itu salah. Menurutnya, mi instan tidak memiliki efek langsung terhadap timbulnya kanker. Kendati demikian, sebutnya, dengan satu syarat agar konsumsi mi instan tidak dilakukan secara berlebihan.

“Mi instan isinya karbohidrat, lemak, dan garam yang kalau dimakan secara berlebihan bisa menyebabkan kegemukan. Kegemukan merupakan faktor risiko untuk macam-macam kanker,” beber Santi.

Dengan demikian, imbuh Santi, mi instan tidak memiliki hubungan langsung dengan kanker.

“Begitupun dengan micin, asalkan takarannya seimbang dan Anda juga dapat menyeimbangkan asupan gizi, maka micin ini tidak akan sereaktif itu untuk menghasilkan kanker,” paparnya.

Selain itu, mitos lainnya adalah biopsi bikin kanker. Santi bilang, biopsi adalah tindakan mengambil sebagian kecil jaringan dari sebuah benjolan yang diduga sebagai kanker. Pemeriksaan itu sendiri diperlukan guna menentukan terapi yang bakal dilakukan.

Menurutnya, kebanyakan masyarakat berasumsi jika benjolan-benjolan yang ada di dalam tubuh diambil atau diutak-atik maka bisa menyebabkan perluasan cakupan kanker.

Hal itu disanggah Santi dengan mengatakan, ada satu riset yang membuktikan kalau angka keberhasilan terapi tinggi justru pada yang pasien menjalani biopsi.

Adapun mitos lainnya adalah kawat bra mengakibatkan kanker payudara. Dijelaskan, bra kawat pada umumnya berfungsi sebagai penyangga payudara yang lebih kokoh.

“Nah, lantaran penggunaan bra ini sering menimbulkan rasa tidak nyaman atau sakit, masyarakat mengasumsikan rasa sakit tersebut merupakan gejala kanker,” imbuh Santi.

Sehingga, kembali dengan tegas ia menolak pandangan itu.

“Jadi untuk Anda yang ingin menggunakan bra kawat, tenang saja. Rasa sakit tersebut wajar karena memang sifat kawat yang keras,” tutup Santi.