Terkini.id, Jakarta – Ekonom senior Faisal Basri baru ini memberi pemparan tegas soal melonjaknya harga minyak goreng di pasaran. Menurutnya, melonjaknya harga minyak goreng disebabkan karena ulah pemerintah sendiri.
Merujuk pada penjelasan Faisal Basri melalui akun Twitternya @FaisalBasri, ia melampirkan hasil tulisan yang mengarah pada sebuah blog pribadinya, faisalbasri.com.
Faisal menjelaskan, beberapa pihak sempat menuduh bahwa melonjaknya harga minyak goreng sebagai akibat dari ulah pengusaha.
“Bahkan ada yang menenggarai terjadi praktik kartel oleh produsen minyak goreng,” tulis Faisal Basri dikutip Jumat 4 Februari 2022.
Menurut Faisal, untuk mencari tahu mengapa harga minyak goreng melonjak, tidak lain harus dilakukan dengan cermat untuk mediagnosis. Sebab, pasar tidak bisa dikomando secara serampangan.
Ekspor menurut Faisal, juga bukan menjadi biang keladi kenaikan harga minyak goreng. Sebab walaupun harga minyak sawit dunia melonjak, volume ekspor dan turunannya hanya naik sangat tipis dari 34,0 juta ton tahun 2020 menjadi 34,2 juta ton tahun 2021.
“Kenaikan sangat tipis volume ekspor walaupun terjadi lonjakan harga beriringan dengan penurunan produksi CPO dari 47,03 juta ton tahun 2020 menjadi 46,89 juta ton tahun 2021,” jelasnya.
Lantas, mengapa harga minyak goreng melonjak padahal produksi dan ekspor CPO hanya turun sangat tipis? Ditambah, permintaan minyak goreng tidak mengalami lonjakan.
Faktor, kata Faisal, yang menjadi sebab mengapa harga tersebut melonkak karena adanya pergeseran besar dalam konsumsi CPO di dalam negeri. Di masa lalu, penggunaan CPO yang sangat dominan di dalam negeri adalah industri pangan (termasuk minyak goreng).
Namun, sejak pemerintah menerapkan kebijakan mandatori biodiesel, alokasi CPO untuk campuran solar berangsur naik.
“Peningkatan tajam terjadi pada tahun 2020 dengan diterapkannya Program B20 (20 persen kandungan CPO dalam minyak biosolar). Akibatnya, konsumsi CPO untuk biodiesel naik tajam dari 5,83 juta ton tahun 2019 menjadi 7,23 ton tahun 2020 atau kenaikan sebesar 24 persen,” terangnya.
“Sebaliknya, konsumsi CPO untuk industri pangan turun dari 9,86 juta ton tahun 2019 menjadi 8,42 juta ton tahun 2020,” tambahnya.
Dengan pola konsumsi seperti ini, CPO dalam negeri terus berlanjut tahun 2021 dan diperkirakan porsi biodiesel akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan CPO dalam biodiesel lewat Program B30 atau bahkan lebih tinggi lagi.
Dengan kondisi ini, menurut Faisal, pengusaha akan lebih cenderung menyalurkan CPO-nya ke pabrik biodiesel karena pemerintah menjamin perusahaan biodiesel tidak bakal merugi karena ada kucuran subsidi jika harga patokan di dalam negeri lebih rendah.
Jelas menjadi dilema, apakah CPO diperuntukkan untuk ‘perut’ atau untuk energi. Inilah yang menjadi penyebab harga minyak goreng karena ada benturan antara kepentingan ‘perut’ atau untuk energi.










