Ia selaku representasi media mainstream di Jawa Tengah melibatkan pakar arkeolog, sosiolog dan psikolog untuk ikut membahas konteks kultural yang menjadi fenomena di tengah masyarakat.
“Kegiatan semacam budaya seperti itu lebih penting, sifatnya kolosal. Salat Idul Fitri, di masyarakat Jawa Tengah lebih banyak dimaknai dari aspek budaya bukan sekedar syariat dan sebagainya. Muatan kultural ini yang besar,” ujarnya.
Sementara itu, menyikapi konten media yang terkadang keliru, Gunawan menyampaikan hal itu bisa mungkin terjadi sehingga berdampak hoaks.
Namun, masyarakat dapat merujuk pada media mainstream. Menurutnya, kebanyakan media mainstream lebih ketat dalam memfilter pemberitaan.
Diakuinya media yang baru muncul kadang terkendala pada sumber daya manusia untuk peningkatan kapasitasnya.
“Media mainstream masih kuat dalam memegang kode etik, cek dan ricek,” kata Gunawan.
Di samping itu, untuk mengantisipasi berita yang keliru, ia berpendapat dengan memberikan informasi yang sebanyak mungkin. Harapannya informasi yang sifatnya kurang tepat bisa ‘ditenggelamkan'.
Ia juga berpendapat bahwa Gugus Tugas dan media-media mainstream yang bertugas untuk membentuk pool media dalam upaya membombardir informasi sesuai dengan fakta.
Di samping itu, Gugus Tugas dapat mengajak Dewan Pers untuk melakukan pengawasan terhadap pemberitaan media.
Pasti terdampak. Media memperoleh penghasilan dari sektor bisnis yang lain bukan penjualan produk.










