FGD dengan Jurnalis di Makassar, Ahmadiyah Pamerkan Alquran yang Mereka Pakai dan Diterjemahkan

FGD dengan Jurnalis di Makassar, Ahmadiyah Pamerkan Alquran yang Mereka Pakai dan Diterjemahkan

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Makassar – Komunitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Makassar bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Masjid An-Nushrat Ahmadiyah, Jalan Anuang, Jumat 3 April 2026.

Forum ini menjadi ruang dialog terbuka antara jurnalis dan komunitas Ahmadiyah, dengan tujuan memperluas pemahaman publik sekaligus meluruskan berbagai persepsi yang selama ini berkembang di masyarakat.

Upaya Membuka Ruang Dialog

Lebih dari satu dekade setelah berbagai peristiwa persekusi terhadap jemaah Ahmadiyah di sejumlah daerah di Indonesia, komunitas ini perlahan menunjukkan tanda-tanda penerimaan yang lebih luas di tengah masyarakat.

Masjid sekaligus kantor Ahmadiyah di Jalan Anuang kini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang diskusi lintas kelompok.

Sejumlah tokoh organisasi keagamaan, seperti NU, Akademisi dari UIN, disebut telah berkunjung untuk melakukan tabayyun atau klarifikasi langsung terkait ajaran dan praktik Ahmadiyah. Sejumlah pihak pun sudah menganggap Ahmadiyah adalah Islam.

Sekretaris Pers dan Juru Bicara Nasional JAI, Yendra Budiana, menyebut minimnya literasi publik menjadi salah satu akar kesalahpahaman.

FGD dengan Jurnalis di Makassar, Ahmadiyah Pamerkan Alquran yang Mereka Pakai dan Diterjemahkan
Sekretaris Pers dan Juru Bicara Nasional JAI, Yendra Budiana berbicara saat pertemuan FGD bersama jurnalis.(terkini.id/hasbi)

“Selama ini tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Ahmadiyah masih sangat kecil, sehingga mudah terprovokasi oleh isu-isu yang menyebut Ahmadiyah sesat,” ujarnya.

Ia merujuk pada hasil survei internal yang menyebut sekitar 84 persen masyarakat belum memiliki pemahaman memadai tentang Ahmadiyah.

Menyambut 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia

FGD ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan satu abad kehadiran Ahmadiyah di Indonesia. Secara historis, Ahmadiyah mulai masuk ke Nusantara sekitar tahun 1925–1926 melalui mubalig dari India.

Gerakan ini didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadian, India, pada akhir abad ke-19. Dalam perkembangannya, Ahmadiyah terbagi menjadi dua kelompok besar secara global, yakni Ahmadiyah Qadian dan Lahore, dengan JAI di Indonesia berafiliasi pada kelompok Qadian.