Sementara itu, Ketua Umum Srikandi Balira Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Andi Hikmawati Kumala Idjo Petta Umba berharap, sebagai Ketua Umum, dirinya mengajak seluruh rumpun Keluarga Besar Srikandi Balira Lembaga Adat Kerajaan Gowa memperkuat silaturahmi dan saling memaafkan.

“Harapan saya sebagai Ketua Umum Srikandi Balira Lembaga Adat kerajaan Gowa, mari kita memperkuat silaturahmi dan saling maaf memaafkan di antara kita rumpun keluarga besar srikandi Balira Lembaga Adat Kerajaan Gowa,”ujarnya.

Dirinya juga mengajak rumpun keluarga besar Srikandi Balira Lembaga Adat Kerajaan Gowa yang berjumlah kurang lebih 200 orang dan berpencar di 24 Kabupatennya/ kota di Sulawesi Selatan itu agar cinta, melestarikan, memajukan, dan mempertahankan budayanya.
“Tentu sebagai masyarakat Sulawesi Selatan yang cinta terhadap budayanya mari kita tetap melestarikan, memajukan, dan mempertahankan budaya kita masing-masing. S mebagai orang Bugis Makassar, Toraja, Mandar, dan termasuk suku lainnya yang ada di Sulawesi Selatan,” bebernya.

Dewan Penasehat Badan Khusus Perwakilan Kerukunan Masyarakat Bulukumba (BKP KM Bulukumba) Makassar Sulsel itu juga berpesan agar seluruh keluarga besar Srikandi Balira Lembaga Adat Kerajaan Gowa tetap saling menghargai.
“Berpesan agar tetap saling menghargai dan menempatkan, memposisiskan sifat-sifat Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipappaccei. Terutama kepada pemerintah di mana wilayah atau di daerah kita berdomisili,”pungkasnya.
Untuk diketahui, Srikandi Balira ini dilatarbelakangi oleh beberapa catatan sejarah I Fatimah Daeng Takontu lahir dari buah pernikahan Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin dengan gadis bangsawan dari Sanrobone, I Daeng Talele.

I Fatimah bersama pasukan perempuan asal Gowa yang disebut Pasukan Bainea membantu pertempuran di Banten dengan bersenjatakan Balira yaitu sebilah kayu yang digunakan sebagai alat tenun dengan panjang kira-kira sekitar satu meter, yang terbuat dari pelepah pohon lontar. Sehingga Balira ini dipercaya sangat bertuah dan sangat ampuh meluluhkan kesaktian dan kekebalan seseorang.
Berdasarkan kisah kepahlawanan I Fatimah Daeng Takontu melawan penjajah dengan pasukan bainea bersenjatakan Balira inilah, pada akhirnya menginspirasi Ketua Umum Srikandi Balira Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Andi Hikmawati Andi Kumala Idjo memberi nama untuk sebuah komunitas perempuan yang menghimpun keluarga besar raja-raja Gowa untuk tetap menjaga adat dan persaudaraan dengan nama “SRIKANDI BALIRA".










