Enam Jenazah Korban Pesawat Jatuh ATR 42-500 Masih Dalam Proses Evakuasi

Enam Jenazah Korban Pesawat Jatuh ATR 42-500 Masih Dalam Proses Evakuasi

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Siagakan Armada Udara

Diberitakan sebelumnya, Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa lokasi kejadian berada di medan yang sangat ekstrem, berupa tebing curam berada di kedalaman ratusan meter dari puncak sehingga menuntut kehati-hatian dan teknik evakuasi khusus.

"Tantangan terbesar yang dihadapi tim SAR gabungan saat ini adalah kondisi cuaca dan alam yang sangat ekstrem. Kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor penghambat utama dalam operasi," jelasnya.

Basarnas sendiri memprioritaskan evakuasi melalui jalur udara. Namun, upaya tersebut belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut tebal di sekitar lokasi kejadian.

"Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi," ungkap Syafii.

Diketahui sebelumnya Pesawat Indonesia Air Transport PK-THT ATR 42-500 hilang kontak pada Sabtu 17 Januari 2026. Pesawat tersebut tujuan Jogyakarta menuju Makassar jatuh di atas pegunungan Bulusaraung Sulawesi Selatan.

Modifikasi Cuaca

Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu opsi dalam membantu pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

"Kondisi cuaca ini juga (ekstrem) dan telah kita koordinasikan. Mudah-mudahan bisa kita laksanakan operasi modifikasi cuaca, sehingga bisa membantu untuk percepatan pelaksanaan operasi SAR,"pungkasnya.

Mohon doa dan Dukungan Masyarakat