Terkini.id, Jakarta - Ekonom ungkap pertumbuhan ekonomi 7,07 persen Indonesia semu. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,07 persen pada kuartal kedua 2021 adalah pertumbuhan semu.
Pasalnya, Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio Nugroho menjelaskan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua berangkat dari basis yang rendah (low base effect), yaitu minus 5,32 persen pada kuartal kedua pada 2020 lalu.
“Kalau dikatakan apakah ini akhir dari resesi atau pertumbuhan semu atau ada yang mengatakan ilusi, tentu saya mengatakan ini pertumbuhan yang semu,” terangnya dalam Tanggapan Kinerja Ekonomi Kuartal Kedua 2021 di Jakarta, Jumat 6 Agustus 2021.
Andry memprediksi, seperti dilansir dari CNNIndonesia, Jumat 6 Agustus 2021, pertumbuhan ekonomi pada kuartal selanjutnya yaitu kuartal ketiga lebih rendah dari capaian kuartal kedua. Alasannya, sepanjang kuartal kedua pada 2020 lalu pemerintah telah melonggarkan PSBB, sehingga kontraksi pertumbuhan ekonomi berkurang menjadi minus 3,49 persen.
Sebaliknya, pada periode yang sama tahun ini pemerintah kembali mengetatkan kegiatan masyarakat lewat PPKM darurat dan level 4.
“Maka, kalau dibandingkan kuartal ketiga 2020 hasilnya pasti akan beda dengan yang ada sekarang, bisa jadi pertumbuhan ekonomi (kuartal ketiga) akan lebih turun dibanding kuartal kedua 2021, karena saat kuartal ketiga 2020 pelonggaran PSBB dilakukan,” papar Andry.
Selain itu, ia menilai belum semua mesin perekonomian bergerak seperti yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Faktanya di lapangan, masih banyak usaha seperti restoran dan akomodasi masih tutup atau beroperasi dengan kapasitas terbatas.
“Sampai dengan akhir tahun, paling mentok 70 persen aktivitas ekonomi (bergerak), karena kalau kita lihat vaksinasi kan baru sedikit, yang sudah vaksin pun masih ada risiko terpapar Covid-19,” urai Andry.
Senada, Ekonom Indef Tauhid Ahmad memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2021 lebih rendah ketimbang capaian 7,07 persen pada April-Juni 2021.
“Dengan melihat situasi ketidakpastian yang terjadi, kami perkirakan pertumbuhan ekonomi itu berada pada rentang tiga persen-empat persen,” bebernya.
Menurut Tauhid, ekonomi akan menghadapi sejumlah tantangan pada kuartal ketiga 2021. Ini meliputi penyebaran varian Delta Covid-19 di Indonesia dan sejumlah negara mitra dagang, implementasi PPKM Darurat guna menekan penyebaran covid-19, serta rendahnya serapan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
“Implikasi semuanya apakah PPKM level 4 berlanjut, ini keputusan sampai 9 Agustus, menurut saya punya peluang untuk diteruskan karena melihat kasus masih tinggi dan level yang berbeda itu menyebabkan perilaku yang beragam tapi praktiknya masyarakat dan dunia usaha menjadi bingung,” ungkapnya.
Tauhid juga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rentan lantaran pandemi Covid-19 diprediksi masih berlangsung lama di Indonesia.
Terlebih, tingkat vaksinasi Covid-19 masih rendah yaitu sekitar delapan persen dari target herd immunity atau kekebalan komunal.
“Jadi, keluar resesi secara teknikal itu mungkin saja positif dan terjadi di kuartal kedua 2021, tapi keluar dari resesi yang dirasakan masyarakat sesungguhnya adalah aman dan bebas dari Covid-19. Ini yang menurut kami butuh waktu lebih panjang,” beber Tauhid.
Sekadar diketahui, Indef adalah lembaga riset independen dan otonom yang berdiri pada Agustus 1995 di Jakarta.
Aktivitas Indef di antaranya melakukan riset dan kajian kebijakan publik, utamanya dalam bidang ekonomi dan keuangan.
Kajian Indef diharapkan menciptakan debat kebijakan, meningkatkan partisipasi, dan kepekaan publik pada proses pembuatan kebijakan publik.
Indef sendiri turut berkontribusi mencari solusi terbaik dari permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia.










