Diskusi Publik Seputar Isu Manajemen Kebersihan Menstruasi di Sekolah Dasar Makassar

Diskusi Publik Seputar Isu Manajemen Kebersihan Menstruasi di Sekolah Dasar Makassar

K
Kamsah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar - Yayasan Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LemINA) berkerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Makassar dan didukung oleh dana HEF dari Kedutaan Besar New Zealand melakukan pendampingan di 20 SD terpilih di Kota Makassar untuk Program Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) sejak November 2020-Oktober 2021.

Salah satu kegiatan program MKM adalah Diskusi Publik yang akan memfasilitasi ruang berbagi informasi ke publik terkait isu menstruasi dan MKM. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian berbagai pihak terhadap isu menstruasi dan MKM untuk hak hidup anak perempuan yang lebih sehat.

Ada 3 (tiga) keterbatasan yang menyebabkan lingkungan sekolah dan madrasah belum optimal dalam melaksanakan MKM, yakni minimnya akses informasi mengenai cara mengelola kebersihan menstruasi, terbatasnya pengetahuan guru dan orang tua tentang MKM, dan terbatasnya sarana sanitasi yang layak di sekolah.

Pada tanggal 9-31 Maret 2021, LemINA melalui program MKM melakukan Diskusi Kelompok Terfokus (DKT) pada siswa perempuan kelas 4, 5, dan 6 yang sudah menstruasi di 20 SD Kota Makassar.

Hasilnya menunjukkan hanya 57,2 % siswa yang melakukan frekuensi ganti pembalut sesuai dengan standar praktik MKM yang dianjurkan yaitu 4-5 jam dan hanya 9,2% siswa yang tahu alasan mengganti pembalut dari segi kesehatan.

Begitu pun dengan cara membuang pembalut, hanya 48% siswa membuang pembalut sesuai standar yakni membungkusnya dengan plastik atau kertas kemudian dibuang ke tempat sampah dan hanya 36,7% siswa yang tahu cara mengatasi masalah tembus saat mentruasi.

Pengetahuan siswa perempuan yang belum menstruasi dan siswa laki-laki terkait apa yang harus dilakukan ketika melihat temannya yang tembus juga masih sangat terbatas. Hasil DKT menunjukkan hanya 7,7% siswa laki-laki dan 11,4% siswa perempuan yang tahu akan pentingnya menghormati teman mereka yang sedang menstruasi dengan cara menawarkan bantuan untuk membelikan pembalut, tidak mengejek, merundung (bullying) atau menyarankan temannya untuk menutupi rok atau celana yang terkena darah mentruasi dengan tas atau jaket.

Pengetahuan dan praktik MKM siswa yang terbatas bisa memberikan dampak pada masalah pendidikan dan munculnya masalah kesehatan seksual dan reproduksi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, sebanyak 1891 siswa perempuan dan laki-laki diberikan edukasi MKM. Saat edukasi, siswa diajarkan berbagai materi terkait seputar MKM oleh guru di masingmasing sekolah.

Selain itu, LemINA menyediakan akses informasi dalam bentuk media komunikasi seperti buku komik dan cerita, stiker, poster, video dan pouch pembalut sebagai strategi komunikasi yang menarik dan mudah dipahami oleh anak.

Peran guru dan orang tua sangatlah penting sebagai sumber informasi yang paling banyak dijadikan rujukan oleh anak terkait menstruasi, namun guru dan orang tua tidak selalu memberikan informasi yang akurat dan menyeluruh.

Akibat ketidaktahuan dan kurangnya informasi yang benar, banyak stigma, mitos dan kepercayaan dan miskonsepsi terkait menstruasi misalnya larangan keramas, berolahraga, minum air es, makan daging dan buah tertentu saat menstruasi.

Oleh karena itu, Untuk meningkatkan kualitas informasi terkait menstruasi dan MKM pada guru dan orang tua, LemINA melaksanakan workshop MKM dengan melibatkan 235 guru dan 250 orang tua siswa di 20 SD penerima manfaat program.
Akses sanitasi di sekolah juga berdampak signifikan terhadap peningkatan kesehatan dan dan berkontribusi pada meningkatnya angka partisipasi sekolah.

Penyediaan Menstrual Hygiene Management Kit (Paket Kebersihan Menstruasi) untuk 20 SD penerima manfaat dapat menjadi dukungan untuk siswa perempuan agar bisa menghadapi menstruasi dengan bersih, nyaman dan aman di sekolah. Paket kebersihan menstruasi terdiri dari 1000 paket pembalut, 20 lemari penyimpanan pembalut, 20 tempat sampah, 20 cermin, dan 40 poster edukasi untuk disimpan di toilet siswa perempuan.

Dibutuhkan keterlibatan semua pihak untuk ikut serta mendukung tumbuh kembang anak-anak. Program MKM adalah langkah awal yang menyasar sebagian kecil sekolah dasar di Kota Makassar.

Peran aktif dan kerjasama sekolah, komunitas, media, organisasi masyarakat, dan lembaga pemerintah menjadi jalan untuk mendukung lebih banyak lagi anak perempuan untuk meningkatkan kualitas informasi, akses informasi dan sarana sanitasi MKM.