Dari TPA ke Energi dan Destinasi: Strategi Makassar Keluar dari Darurat Sampah

Dari TPA ke Energi dan Destinasi: Strategi Makassar Keluar dari Darurat Sampah

A
HZ
Admin
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

SETIAP tahun, narasi tentang tumpukan sampah di berbagai sudut negeri kerap berakhir sebagai sekadar angka fantastis yang memicu kekhawatiran sesaat.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kita sedang berpacu dengan waktu melawan apa yang tepat disebut sebagai “bom waktu ekologis”. Data nasional sepanjang tahun 2024 menyajikan potret yang kelam: timbulan sampah mencapai 33,8 juta ton.

Dari jumlah masif tersebut, sebanyak 13,6 juta ton atau setara dengan 40,1% masih menjadi residu yang tidak terkelola. Residu ini tidak hilang; ia terakumulasi di TPA, hanyut ke laut, atau dibakar secara terbuka, secara masif mencemari tanah, air, dan udara yang kita hirup.

Di Kota Makassar, krisis ini bukan lagi ancaman teoretis, melainkan realitas harian yang menuntut intervensi segera dan struktural. Sebagai hub utama di Timur Indonesia, kota ini memproduksi sekitar 1.000 hingga 1.300 ton sampah setiap harinya. Beban terbesar dari volume yang mencengangkan ini jatuh pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa. TPA ini adalah potret mikrokosmos dari kegagalan tata kelola sampah linier: dengan luas area yang hanya 19,1 hektare sangat terbatas
untuk kota metropolitan ketinggian tumpukan sampah di sana telah mencapai angka kritis 16–17 meter. Tanpa adanya rekayasa struktural yang radikal dari hulu, para ahli memprediksi kapasitas daya tampung TPA Tamangapa akan lumpuh total dalam waktu kurang dari dua tahun. Kegagalan ini akan memicu krisis sanitasi hulu-hilir yang melumpuhkan kota.

Namun, di tengah urgensi ekologis ini, kita harus berani mengubah lensa pandang. Krisis ini sesungguhnya bukan sekadar persoalan sanitasi perkotaan atau manajemen limbah semata. Ia adalah ancaman langsung dan eksistensial terhadap tulang punggung ekonomi masa depan Sulawesi
Selatan: sektor pariwisata.

1. Mengamankan Fondasi Destinasi Melalui Teknologi “Waste-to-Energy”

Pariwisata modern telah mengalami pergeseran paradigma yang fundamental. Ia tidak lagi sekadar berbisnis tata ruang atau menjual keindahan visual destinasi yang superfisial, melainkan menawarkan “pengalaman” yang bersih, sehat, dan menjunjung tinggi etika lingkungan. Mengacu pada pedoman internasional dari Global Sustainable Tourism Council (GSTC), manajemen limbah padat (Kriteria D2) adalah syarat mutlak bagi sebuah destinasi untuk dapat diklasifikasikan sebagai destinasi berkelanjutan (sustainable destination). Wisatawan bahari yang mencari kejernihan perairan, penikmat sejarah yang menghargai ruang publik yang rapi, atau pemburu kuliner yang mengutamakan sanitasi akan segera berpaling jika dihadapkan pada wajah kota yang kumuh. Citra sebuah destinasi sangat rapuh terhadap isu kebersihan, dan sekali runtuh, pemulihannya membutuhkan waktu yang sangat Panjang danbiaya yang
tidak kecil.

Untuk mengatasi paradoks ini antara lonjakan sampah dan kebutuhan kebersihan destinasi inisiatif Pemerintah untuk menghadirkan teknologi Waste-to-Energy (WtE) menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditawar.
Program Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang direncanakan di 33 kota, termasuk pemusatan PSEL di kawasan TPA
Antang/Tamangapa, bukan sekadar proyek infrastruktur energi, melainkan perwujudan dari tata kelola Destination Management Organization (DMO) yang holistik.

Pemerintah pusat telah menunjukkan komitmen politik yang kuat melalui RUPTL PLN 2025-2034, dengan menetapkan target kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebesar 452,7 Megawatt. Melalui teknologi seperti insinerasi modern, pirolisis, dan gasifikasi, residu sampah yang selama ini hanya menumpuk dan memproduksi gas metana gas rumah kaca yang puluhan kali lebih berbahaya dari CO2 dikonversi menjadi energi bersih. Infrastruktur ini bertindak sebagai instrumen penjaga kualitas lingkungan destinasi, memastikan bahwa “wajah” pariwisata Makassar tetap prima tanpa terbebani oleh limbahnya sendiri. Kita bisa belajar dari negara-negara seperti Swedia, Jepang, dan
Jerman yang telah berhasil meminimalkan residu di TPA hingga kurang dari 3%, dan justru menjadikan WtE sebagai pilar energi dan kebersihan kota mereka.

2. Sirkularitas Akomodasi: Ekosistem Hijau yang Menguntungkan