Terkini.id, Jakarta - Pandemi Corona yang melanda dunia berdampak pada dunia pendidikan. Pada Mei 2021, 26 negara menutup sekolah secara menyeluruh.
Adapun 55 negara lain mengizinkan sebagian sekolah buka, tetapi hanya di kawasan tertentu atau kelas-kelas tertentu.
Menurut UNESCO, pandemi diperkirakan telah mengganggu pendidikan dari 90 persen anak usia sekolah di seluruh dunia.
Menurut laporan Human Rights Watch, penutupan sekolah terkait Covid menyebabkan dampak yang bervariasi.
Sebab, tidak semua anak punya kesempatan, perkakas, atau akses yang dibutuhkan untuk tetap bisa belajar selama pandemi.
Laporan setebal 125 halaman tersebut, “Waktu Tak Bisa Menunggu”: Peningkatan Ketimpangan dalam Hak Anak atas Pendidikan Akibat Pandemi Covid-19” menemukan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap Pembelajaran Jarak Jauh.
Hal ini memperparah ketimpangan distribusi sokongan pendidikan yang selama ini sudah ada.
Banyak pemerintahan tidak memiliki kebijakan, sumber daya, atau infrastruktur untuk menyelenggarakan pembelajaran daring yang menjamin kesetaraan peluang partisipasi bagi semua anak.
Seperti yang dialami oleh murid perempuan (16 tahun) di Papua, Indonesia. Ia mengeluhkan sinyal internet yang susah dijangkau.
“Kementerian Pendidikan menyediakan aplikasi Rumah Belajar, tetapi apa gunanya aplikasi tanpa sinyal internet bagi murid-murid?" ujarnya, seperti dilansir dari Human Rights Watch, Selasa 18 Mei 2021.
"Telepon dan jaringan internet sangat tidak memadai. Saya harus bangun pukul dua pagi untuk mencari sinyal. Pembelajaran daring ini mustahil," tutupnya.
Menyikapi problem tersebut, Elin Martinez, peneliti senior bidang pendidikan di Human Rights Watch menyerukan kepada semua orang agar memperbaiki kesalahan-kesalahan sistem sekolah.
"Dengan jutaan anak yang kehilangan hak atas pendidikan semasa pandemi, inilah saatnya kita meneguhkan perlindungan terhadap hak tersebut, dengan cara membangun ulang sistem-sistem pendidikan yang lebih adil dan tangguh,” kata Elin Martinez, Senin, 17 Mei 2021.
“Sasaran kita sepatutnya bukanlah kembali ke situasi sebelum pandemi, melainkan memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam sistem yang selama ini menghalangi sekolah untuk menjadi lembaga yang terbuka dan bisa menyambut semua anak," tambahnya.










