Cegah Kerusakan Pesisir, Filatelis Sulawesi Selatan Menanam Mangrove

Cegah Kerusakan Pesisir, Filatelis Sulawesi Selatan Menanam Mangrove

MUSTARI TEPU

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar – Pengurus Daerah Perkumpulan Filatelis Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan aksi kolaborasi penanaman mangrove di Kawasan Ekowisata Mangrove Lantebung bersama Rimbawan, Pelajar Sekolah Dasar, Pramuka Saka Wanabakti, Kelompok Masyarakat Jekomala dan Masyarakat Lantebung. Kegiatan yang berlangsung kemarin (31/7/2022) pagi itu berlangsung lancar dan seru, melibatkan 200 orang peserta dengan jumlah bibit yang ditanam sebanyak 2000 batang mangrove dan 500 tanaman buah untuk ditanam di pekarangan rumah masyarakat. Kegiatan bertema “Mangrove Indonesia Untuk Dunia” dihadiri juga oleh perwakilan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan se-Sulawesi Selatan.

Ketua Pengurus Daerah Perkumpulan Filatelis Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (PD PFI Sulsel) Ir. Zulfadli Samad Tahir, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Jeneberang Saddang (BPDASHL Jensad) yang telah menjadi mitra dan mendukung sepenuhnya kegiatan aksi baik ini untuk bumi. Hal tersebut disampaikan juga kepada Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah II dan pihak lain yang telah mendukung kolaborasi ini. ”Menanam mangrove ini sangat baik untuk mencegah kerusakan pesisir dan menjamin keberlangsungan hidup di bumi terutama bagi masyarakat pesisir” ujar Fadli.

Cegah Kerusakan Pesisir, Filatelis Sulawesi Selatan Menanam Mangrove
Foto bersama dengan para peserta Aksi Penanaman Mangrove (Foto : Rezki Agung)

Sementara itu, M. Tahir P., S.P., M.Si selaku Kepala BPDASHL Jensad sangat mengapresiasi PD PFI Sulsel melakukan inisiasi kolaborasi penanaman mangrove ini. “Kami sangat mendukung kegiatan ini dan acara seperti ini perlu terus dilakukan bersama-sama, karena kami Pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat dan pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian mangrove dan lingkungan hidup secara umum” kata Tahir.

Dalam sambutannya di hadapan ratusan peserta aksi, M. Tahir juga menyampaikan kronologi Peringatan Hari Mangrove Se-Dunia. “Peringatan Hari Mangrove se-Dunia, sejarahnya berawal di Ekuador, Amerika Selatan. Tingginya permintaan pasar ekspor untuk komoditas udang menyebabkan pertumbuhan tambak udang yang mengorbankan hutan-hutan mangrove. Bahkan masyarakat lokal banyak yang terusir dari lahan miliknya, sementara di sisi lain tanah dan air mengalami polusi. Akhirnya, pada 26 Juli 1998 terjadi aksi besar di Ekuador bersama organisasi lingkungan dari beberapa negara tetangga, seperti Honduras, Guatemala, dan Colombia. Aksi ini menyuarakan penolakan terhadap penebangan mangrove yang semakin merajalela. Tragisnya, salah seorang aktivis lingkungan yang ikut dalam aksi bersama tersebut mengalami serangan jantung dan meninggal dunia”. Lebih lanjut dikatakan “Kejadian tanggal 26 Juli 1998 menjadi momen emosional bagi warga Ekuador dan sekitarnya sehingga diperingati setiap tahun sebagai hari mangrove. Delegasi Ekuador pun kemudian mengusulkan tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Mangrove Sedunia, dan kemudian diresmikan pada Resolusi 38C/66 yang dihasilkan oleh Sidang Umum UNESCO di Paris, pada tanggal 6 November 2015. Dan Hari Mangrove secara Internasional mulai diperingati sejak tanggal 26 Juli 2016” ungkapnya.

Cegah Kerusakan Pesisir, Filatelis Sulawesi Selatan Menanam Mangrove
Peserta Aksi dengan latar belakang Mangrove yang telah ditanam (Foto : Rezki Agung)

Tahir juga menyampaikan betapa pentingnya mangrove itu dilestarikan. “Tanah pada hutan mangrove yang berlumpur dan jenuh air mengandung oksigen rendah dan bahkan tidak mengandung oksigen menyebabkan tidak semua tumbuhan dapat hidup di kondisi tersebut. Di Indonesia terdapat 202 jenis tumbuhan mangrove yang terdiri dari 89 pohon, 5 palem, 19 liana, 44 herba tanah, 44 epifit, dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut, 43 jenis di antaranya adalah mangrove sejati dari sekitar 75 spesies mangrove sejati di dunia atau 57% dari spesies mangrove dunia. Sementara sisanya dikategorikan sebagai mangrove asosiasi.

Lebih lanjut dikatakan bahwa keberadaan hutan mangrove di Indonesia ini dapat menyimpan cadangan karbon sebesar 3,1 milyar ton atau setara dengan emisi gas rumah kaca dari 2,5 milyar mobil per tahun. Dengan melestarikan ekosistem mangrove yang ada saat ini, maka diperkirakan seperempat target pengurangan emisi sebesar 26% di tahun 2030 dapat dipenuhi” ujarnya.

Tahir juga menyampaikan bahwa kelestarian mangrove mendapatkan ancaman yang tinggi dari berbagai bentuk gangguan, baik manusia maupun faktor alami. “Penyebab deforestasi terutama dari kegiatan manusia yaitu mencakup 60% luas mangrove yang hilang. Sisanya, disebabkan oleh faktor alami atau dampak tidak langsung dari kegiatan manusia, termasuk erosi, kenaikan permukaan laut, dan badai yang dipicu oleh perubahan iklim” ungkapnya.

Karena itu, Pemerintah Indonesia memandang penting untuk menangani mangrove secara khusus. Menurut M. Tahir, telah dilakukan beberapa langkah strategis yang telah diambil antara lain membentuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan menerbitkan Peta Mangrove Nasional (PMN) 2021 sebagai data terupdate luas mangrove Indonesia. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga menargetkan rehabilitasi mangrove nasional untuk 4 (empat) tahun ke depan (2021 – 2024) dengan target seluas 600.000 ha. Untuk mencapai keberhasilan dalam program tersebut perlu keterlibatan semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, swasta maupun penggiat mangrove nasional dan daerah untuk melakukan rehabilitasi ekosistem mangrove di seluruh Indonesia.

Cegah Kerusakan Pesisir, Filatelis Sulawesi Selatan Menanam Mangrove
Para Filatelis sesaat sebelum acara Lantebung Mangrove Fashion Week (Foto : Rezki Agung)

Diakhir sambutannya, M. Tahir mengharapkan dukungan kerjasama dari berbagai pihak termasuk Filatelis, Pramuka dan berbagai pihak dalam menyukseskan FoLU Net Sink 2030, atau lengkapnya Forest and Other Land Uses carbon net sink atau pemanfaatan hutan dan penggunaan lahan. “Carbon net sink adalah penyerapan karbon bersih yang merujuk pada jumlah penyerapan emisi karbon yang jauh lebih banyak dari yang dilepaskannya. Maka FoLU net sink adalah keadaan ketika sektor lahan dan hutan menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskannya. Dalam dokumen penurunan emisi atau NDC, FoLU menjadi satu dari lima sektor program mitigasi krisis iklim. Pada 2030, sektor ini akan menghasilkan emisi sebanyak 714 juta ton setara CO2. Pembangunan rendah karbon akan mengurangkan emisi sebanyak 17,2% dalam skenario penurunan emisi 29% dan 24,5% dalam skenario 41%” ujarnya.

Di tempat yang sama, para Filatelis Sulawesi Selatan juga mengagendakan kegiatan Penandatanganan Sampul Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2022. Sampul Peringatan tersebut di tanda tangani oleh Kepala BPDASHL Jensad, KCU PT Pos Indonesia Wilayah Sumapapua dan Kalimantan, Ketua PDPFI Sulsel dan Perwakilan Postcrossing Sulsel. Sampul Peringatan ini hanya tercetak terbatas sebanyak 222 lembar, sehingga akan menjadi incaran bagi para kolektor benda-benda filateli. Selain itu juga dilakukan Meet Up bagi anggota Postcrossing Sulawesi Selatan dan ditutup dengan acara Lantebung Mangrove Fashion Week (MT).