Cegah Banjir Besar Terulang, Makassar Akan Tebar Sumur Resapan di Tiga Kecamatan

Cegah Banjir Besar Terulang, Makassar Akan Tebar Sumur Resapan di Tiga Kecamatan

K
Kamsah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar – Kota Makassar akan menebar sumur resapan di tiga kecamatan untuk mencegah bencana banjir besar, seperti yang terjadi pada 13 Februari 2023, terulang kembali. Lelang pengerjaan untuk proyek ini ditargetkan pada April mendatang.

Kepala DPU Makassar, Suhaelsi Zubir menerangkan konsep ini mencontoh wilayah DKI Jakarta. Hanya saja untuk pembangunannya akan dilakukan di atas fasilitas umum. Ini berbeda dengan Jakarta yang dibangun di atas aspal.

"Kalau di Jakarta di aspal, kita rencananya di fasum, nanti diratakan," ujar Suhaelsi, Selasa, 21 Februari 2023.

Kepala Bidang Drainase DPU Makassar, Nur Hidayat mengatakan proyek itu akan dikerjakan di Kecamatan Panakkukang, Ujung Pandang dan Biringkanayya.

"Jadi tiga paket, tiap kecamatan satu paket, total anggarannya itu Rp400 juta per satu paket, (Rp1,2 milliar total)," kata Hidayat.

Ihwal titik sumur resapan diserahkan ke kelurahan untuk meninjau kawasan mana yang paling tepat. Namun yang jelas, titik-titik tersebut akan menyasar kawasan rawan genangan, beberapa contoh, seperti kawasan Paccerakkang, Biringkanayya, Batua Raya, dan Panakkukang. Kawasan tersebut merupakan langganan banjir saat musim hujan.

Sumur resapan tersebut juga bertujuan untuk memperbaiki kualitas air tanah di Makassar. Sumur tersebut dinilai akan memberikan cadangan air tanah untuk mencegah kekeringan.

"Makanya (proyek ini) masuk kegiatannya pembangunan sumur air tanah untuk air baku, itu membantu air tanah pada saat musim kemarau," katanya.

Sementara untuk desain dan ukuran sumur tersebut mencapai 3-4 meter.

Hidayat melanjutkan, pembangunan sumur resapan ini baru menyasar tiga kecamatan. Pihaknya tak memasukkan kawasan Tallo, Sangkarrang, Wajo dan Ujung Tanah atau wilayah Utara Makassar yang notabene merupakan kawasan kekeringan sebab adanya masalah kondisi tanah yang berbeda.

"Pengukuran air tanah, pada saat air tanahnya landai, dekat dari tanah itu tidak bisa, sementara daerah-daerah Utara, air tanahnya landai, jadi kita tidak disarankan di sana," katanya.