Terkini.id - Cara Vale Indonesia melakukan reklamasi lahan bekas tambang menjadi salah satu daya tarik, mengapa perusahaan ini meraih penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) Hijau oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
PROPER Hijau sendiri diberikan kepada perusahaan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan (beyond compliance).
Di antaranya implementasi reuse-reduce-recycle (3R) limbah, penerapan Life Cycle Assessment (LCA), penurunan beban pencemaran air, dan pemberdayaan masyarakat.
Pada lahan-lahan bekas tambang Vale, di Blok Sorowako-Petea Sorowako, yang luasnya sekitar 293,44 hektar (ha), reklamasi dilakukan dengan prosedur yang sesuai prinsip berkelanjutan. Sebelum dilakukan proses tambang, Vale terlebih dahulu mengidentifikasi tumbuhan-tumbuhan, dan itu dilakukan oleh Tim Nursery Vale.
Nursery merupakan divisi khusus yang dibentuk Vale untuk merawat tanaman, mengoleksi jenis-jenis tumbuhan endemik di hutan-hutan Sorowako.
Anggotanya adalah para jagoan ilmu pertanian, yang mencintai lingkungan.
Erlin Harry, Reclamation Engineer PT Vale, menjelaskan, Tim Nursery mendata jenis-jenis pohon endemik yang tumbuh di lokasi target penambangan. Lalu sebagian anakan pohon asli diambil untuk dibibitkan di pusat Nursery, yang luasnya 2,5 ha dengan kapasitas produksi 700.000 bibit pohon per tahun.

Usai diidentifikasi, tanah disposal alias 'tanah penutup' tempat tumbuhnya tanaman yang jadi target pembukaan lahan tambang itu juga diambil dan ditampung PT Vale. Proses pra-tambang ini berlangsung bertahun-tahun.
Saat proses pertambangan selesai, alias mine off, tanah disposal itu dikembalikan untuk memulai proses reklamasi atau pemulihan lahan bekas tambang.
Jenis-jenis pohon yang pernah tumbuh di lahan itu ditanam kembali. Walhasil, sebagian lahan bekas tambang sukses pulih hingga mendekati sedia kala. Habitatnya perlahan pulih, dan hewan-hewan yang pernah hidup pun datang kembali.
"Setelah tanahnya dikembalikan atau ditimbun kembali, kita bentuk kontur tanahnya, dibuat seperti bukit-bukit, ada saluran air yang tersambung ke drainase, lalu kita lakukan penanaman tumbuhan cover crop.
Tahap kedua, kita beri pupuk urea dan mulai tanami pohon-pohon pionir. Setiap satu hektar lahan reklamasi, paling tidak kita tanami hingga 714 pohon. Pohon ini kita rawat sampai 2 tahun. Masuk dua tahun kita lakukan pengayaan, dan tanami lagi pohon lokal.
Kalau lahannya bekas hutan lindung, kita tanami pohon-pohon endemik, seperti eboni, bitti. Kalau lahannya bekas hutan produksi, kita bisa tambah tanaman lokal seperti nangka, durian, pohon pisang dan lain-lain," ungkap Erlin.
Proses itu memakan biaya yang tidak sedikit.
Vale mengeluarkan anggaran paling tidak IDR 350 juta per ha. Sepanjang 2022, rencana reklamasi lahan bekas tambang perusahaan dengan kode INCO ini mencapai hingga 293,4 ha. Total lahan yang direklamasi sejak Vale ada, mencapai hingga 3.338,6 ha. Angka ini cukup besar, dengan melihat bukaan lahan tambang PT Vale yang mencapai 5.376,5 ha hingga Juli 2/022.
Sudah banyak lahan bekas tambang yang sukses direklamasi oleh Vale, dan ekosistemnya mulai pulih. Vale paling tidak telah sukses mengembalikan 90 ha lahan bekas tambang ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), karena telah dianggap berhasil memenuhi kriteria keberhasilan tanaman.
Di lahan-lahan reklamasi itu, ekosistemnya sudah mendekati sedia kala. Sudah diuji petik tim KLHK, dengan melihat munculnya mikroorganisme, tanaman lokal yang berhasil tumbuh, hingga kembalinya habitat hewan.
Dari pemantauan KLHK itu, beberapa hewan sudah kembali dan menjelajah lahan bekas tambang, seperti ular, rusa hingga anoa. "Khusus anoa ini, tim dari Biodiversity LIPI yang ahli tentang anoa menemukan jejak dan kotorannya," ungkap alumnus Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin itu.
Hal ini tentu menggembirakan, mengingat anoa adalah salah satu hewan endemik khas Sulawesi yang terancam punah. Hewan mamalia ini sudah sangat jarang ditemukan di hutan-hutan di Pulau Sulawesi. Kembalinya habitat hewan, menjadi tanda suksesnya proses reklamasi.
Sembilan puluh hektar areal hutan hasil reklamasi itu adalah tahap awal. Menurut Febriany Eddy, Presiden Direktur PT Vale, ada 30 ha lagi yang akan diserahkan, dan selanjutnya 10.000 ha pada 2024 mendatang.
“Perusahaan kami memegang teguh komitmen rehabilitasi lahan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) serta menjaga keanekaragaman hayati.
PT Vale tidak akan berhenti melakukan rehabilitasi lahan pascatambang, demi menjaga keberlanjutan ekosistem di kawasan hutan di area operasional kami,” kata Febriany, usai Vale memboyong empat penghargaan dari Kementerian ESDM, 29 September 2022 lalu.
Penghijauan di lahan-lahan bekas tambang yang rutin dilakukan, ditambah lagi smelter Vale di Sorowako yang menggunakan teknologi rendah karbon nomor satu di Indonesia, menjadi alasan udara di pegunungan Sorowako selalu bersih dan sejuk.
Akademisi dari Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin, Irwan Ridwan Rahim mengaku salut dengan aktivitas pertambangan di Vale, khususnya soal reklamasi.
“Saya acungkan jempol ke PT Vale dalam meminimalkan dampak tambang terhadap lingkungan. Saya dari akademisi teknik lingkungan, dan kajian kami terkait lingkungan bidang pertambangan, kita selalu jadikan contoh best practice itu dari Vale,” kata Ridwan, saat berbicara dalam Talkshow 'Media dan Reportase Pertambangan' di Hotel Aryaduta Makassar, Jumat, 4 November 2022 lalu.
Ridwan mengungkapkan, saat dirinya menjadi konsultan technical engineering construction di PLTA Karebbe yang dibangun Vale, dia salut melihat cara Vale mereklamasi lahan bekas tambang. "Kami melihat, Vale ini tidak main-main mereklamasi tambang,” ungkap dia lagi.










