Banjir di Makassar karena Sistem Drainase Masih Buruk

Banjir di Makassar karena Sistem Drainase Masih Buruk

K
Kamsah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar – Sistem drainase Kota Makassar masih buruk. Berdasarkan data RPJMD Kota Makassar, persentase jalan yang memiliki trotoar dan drainase atau saluran pembuangan (minimal 1,5 m) tahun 2016- 2020 hanya sebesar 40.28% dari total panjang jalan 1.593,46 km.

Hingga kini, belum ada penambahan jalan yang memiliki trotoar dan drainase. Pemerintah perlu serius melakukan perencanaan untuk memberikan perlindungan semaksimal mungkin bagi warga atas kemungkinan bencana banjir.

Pada umumnya, kawasan yang sering mengalami banjir di Kota Makassar terkonsentrasi di daerah dengan elevasi 1-4 m dpl serta pada daerah dengan sistem drainase yang tidak memadai.

Berdasarkan topografinya, Kota Makassar dikategorikan sebagai dataran landai dengan ketinggian mencapai 1-22 m dpl. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya banjir atau luapan air yang juga didukung oleh sistem drainase kota yang belum optimal.

Selain itu, Kota Makassar juga sangat dipengaruhi oleh proses sungai yang bersumber dari sungai utama yang melewati kota ini, yaitu Sungai Tallo, dan Sungai Je’neberang.

Kondisi morfologi ini berperan penting dan sekaligus menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir di kota Makassar.

Hampir setiap tahunnya beberapa bagian kota di Kota Makassar mengalami banjir. Banjir itu pada umumnya terjadi pada bulan Desember-Februari, yaitu pada saat curah hujan tertinggi pada setiap tahunnya.

Beberapa banjir besar yang pernah terjadi sepuluh tahun di antaranya adalah pada tahun 2013, 2015 dan 2017. Banjir yang cukup besar yang terjadi pada tahun 2013 dan 2017 di Kota Makassar, di mana sebagian besar wilayah kota mengalami kebanjiran.

Banjir besar kembali berulang pada tahun ini, di mana 12 kecamatan terendam banjir secara merata.

Daerah-daerah yang menjadi langganan banjir pada umumnya merupakan daerah rendah, dahulu berupa empang atau daerah rawa-rawa yang kemudian berkembang menjadi daerah permukiman.