Anak Makassar Rachmat Kaimuddin Ditunjuk Jadi Wakil Presiden Komisaris PT Vale

Anak Makassar Rachmat Kaimuddin Ditunjuk Jadi Wakil Presiden Komisaris PT Vale

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar - Jajaran Komisaris dan Direksi PT Vale mengalami perubahan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Selasa 21 Juni 2022 menunjuk anak Makassar Muhammad Rachmat Kaimuddin sebagai Wakil Presiden Komisaris PT Vale.

Selain sebagai Wakil Presiden Komisaris PT Vale, Rachmat Kaimuddin saat ini juga merupakan Deputi Technology and Sustainability Development Special Advisor Kemenko Marves.

Chief Financial Officer PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto mengatakan Rachmat Kaimuddin merupakan representasi dari PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) selaku salah satu pemegang saham.
Sebagaimana diketahui, Inalum merupakan pemilik 20 persen saham INCO.

"Perseroan mengusulkan kepada pemegang saham pengangkatan Muhammad Rachmat Kaimuddin sebagai Wakil Presiden Komisaris,"ujar Bernardus Irmanto.

Mantan Bos Bukalapak tersebut menggantikan Hendi Prio Santoso yang mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden komisaris PT Vale sejak 31 Mei 2022 lalu.

Selain adik CEO Kalla Group tersebut, PT Vale juga mengumumkan pengangkatan Yusuke Niwa sebagai Komisaris Perseroan menggantikan Nobuhiro Matsumoto.

Keduanya akan menjabat efektif sejak penutupan rapat sampai dengan penutupan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2024.

Hal ini sesuai dengan pertimbangan surat para pemegang saham Perseroan tentang Pencalonan Anggota Dewan Komisaris dan Komite Mitigasi Risiko Perseroan tertanggal 27 Mei 2022 yang diterima dari PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero), serta tentang Pencalonan Anggota Dewan Komisaris dan Komite Tata Kelola, Nominasi dan Remunerasi Perseroan tertanggal 25 Mei 2022 yang diterima dari Sumitomo Metal Mining Co. Ltd.

Sehubungan dengan surat pengunduran diri Dani Widjaja dari jabatannya sebagai Direktur Perseroan dan Hendi Prio Santoso sebagai Wakil Presiden Komisaris Perseroan, maka Perseroan mengusulkan penerimaan permohonan pengunduran diri tersebut kepada para pemegang saham, efektif sejak tanggal yang tertera pada surat pengunduran diri.

Perubahan susunan pengurus akan memperhatikan ketentuan Pasal 11 ayat 4 dan 9, Pasal 15 ayat 4 dan 9 Anggaran Dasar Perseroan, Pasal 8 dan Pasal 23 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik, serta Kebijakan Proses Nominasi dan Remunerasi Perseroan.

Mengenal Sosok Muhammad Rachmat Kaimuddin:

Rahmat Kaimuddin lahir di Makassar, 15 April 1979. Setamat SMP, dia memantapkan diri untuk merantau dari kampung halaman pada 1994. Ketika itu, Rahmat Kaimuddin remaja masih berusia 15 tahun.

Ia meninggalkan Makassar Sulawesi Selatan dan memilih Magelang sebagai tujuan pertama perantauannya. Dia bersekolah di SMA Taruna Nusantara hingga 1997.

Siapa sangka, saat itu Rachmat satu angkatan dengan salah satu putra mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Agus Harimurti Yudhoyono yang juga dikenal sebagai AHY.

Ketika masih di bangku SMA, Rachmat dikenal sebagai salah satu siswa unggulan, bahkan sempat turut kejuaraan Olimpiade di Kanada.

Setelah menamatkan pendidikan SMA, Rachmat Kaimuddin memilih melanjutkan kuliah ke Massachusetts Institute of Technology (MIT), Boston tahun 1998-2001 dengan gelar BSc.

Tidak berhenti sampai di situ, Rachmat juga sempat menyabet gelar MBA dari Stanford University, California pada 2006-2008.

Rachmat memastikan alasannya memilih mengenyam pendidikan di luar negeri, sebatas karena dirinya tidak lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).

“Rezeki saya waktu itu, saya dapat beasiswa, dapatnya beasiswa luar negeri. Mungkin sudah jalan Tuhan, bukan karena tidak nasionalis sok sekolah di luar negeri,”beber Rachmat beberapa waktu lalu.

Selama menjadi mahasiswa, kata Rahmat sempat menjajal berbagai pekerjaan di Amerika Serikat (AS) seperti menjadi grader hingga menjaga perpustakaan.

Upahnya, cukup untuk membeli makanan. Lulus kuliah pada 2001, Rachmat bekerja di salah satu perusahaan chip sebagai design engineer.

Namun pada 2003, Rachmat memutuskan kembali ke Indonesia dan memulai karier sebagai Consultant di Boston Consulting Group Jakarta.

Dia membandingkan gaji yang diterima di Indonesia, hanyalah separuh dari gajinya yang dia peroleh saat bekerja di Negeri Paman Sam. Namun, semangat nasionalis justru menjadi alasannya untuk kembali ke Indonesia.

Bahkan, meskipun Rachmat sempat melanjutkan pendidikan S2 di Stanford University hingga 2009, dia tetap kembali ke Tanah Air.