Terkini.id, Jakarta - Pakar Hukum, Ricky Vinando menanggapi pernyataan pengacara suami korban kasus Subang Yosef Hidayah yakni Rohman Hidayat yang pada beberapa waktu lalu menyatakan bahwa pada 18 Agustus pagi kliennya sempat menghubungi Amel tapi tidak direspons.
Selanjutnya, menurut Ricky, pengacara Yosef itu menyatakan bahwa kliennya menghubungi kakak Amel yakni Yoris di jam yang sama.
Menurut Rohman, telepon Yoris dijawab oleh sang istri istri. Dan Yosef menyampaikan ke istri Yoris bahwa di rumah ada penculikan.
Yosef, kata Rohman, berpikir penculikan karena pada saat itu ia melihat di jalan sebelah pintu masuk ada bekas ban mobil.
Menanggapi hal itu, Ricky Vinando pun mematahkan argumentasi dari pengacara Yosef tersebut.
Menurut Ricky, kasus pembunuhan di Subang sangat patut diduga tidak didahului dengan tindak pidana penculikan.
Menurutnya, alasan diduga adanya penculikan sangat tak singkron dengan kondisi atau keadaan dalam rumah korban yang banyak darah dari ujung ke ujung, dapur, dekat rak piring, ruang tamu, bahkan sampai kamar Amel.
"Tak logislah, tak masuk akal secara hukum pidana si penculik menculik ibunya Amel dan dibawa ke suatu tempat kemudian dibunuh dan 5 jam kemudian menculik Amel dan dibawa juga ke suatu tempat dan dihabisi ditempat itu kemudian dibawa lagi masuk ke rumah kediamannya korban dan korban di bawa-bawa mengelilingi ruang tamu, dapur, rak piring, kamar Amel, kamar mandi, hingga berakibat darah segar dari kepala korban menetes-netes, bercecer-ceceran pada spot-spot tersebut di kediaman korban," kata Ricky Vinando lewat keterangan tertulisnya, Rabu 20 Oktober 2021.
"Kan di rumah yang jadi TKP itu mulai dari depan pintu masuk, pintu belakang, kamar mandi, dekat rak piring, dapur, ruang tamu sampai kamar Amel bahkan dekat garasi mobil banyak darah segar yang berceceran dan ini tak bisa lepas dari keterangan saksi Suparman alias Ujang yang memergoki kegiatan Yosef di dalam rumah lalu ditimpali Yosef membereskan rumah yang berantakan hingga berakibat diduga banyak genangan darah bercampur air. Juga keterangan saksi Pak RT Dede yang melihat banyak darah. Polisi saat olah TKP juga melihat banyak genangan darah bercampur air di tempat-tempat yang ada ceceran darah jadi bercampur air, tergenang," tambahnya.
Ricky menyebut, indikasi kuat lainnya Amel dan ibunya tidak diculik sebelum adanya peristiwa perampasan nyawa adalah di dapur dan pinggir rak piring hingga ruang tamu banyak ceceran darah.
Hal itu, kata Ricky, indikasinya jelas diduga kuat karena terjadi kejar-kejaran. Ia menduga Amel berlari-lari sampai ke dapur, pinggir rak piring, hingga ruang tamu makanya darah berceceran di situ, karena posisi kamar mandi, rak piring, dapur tidak ada di dekat atau berselebahan dengan pintu masuk depan.
"Jadi soal penculikan sangat lemah alasan hukum ini seolah-olah ada penculikan, sehingga setelah diculik dibawa masuk melewati bagian pintu masuk, lah dapur, pinggir rak piring aja, kan posisinya tidak di dekat pintu masuk kenapa malah pinggir rak piring dan bagian dapur bisa banyak darah bececeran? Ya karena tak ada penculikan, diduga kuat Amel dikejar-kejar hingga Amel sampai berlari-lari ke dapur dan dekat pinggir rak piring, sehingga banyak darah. Apalagi dari penjelasan awal Kapolres Subang AKBP Sumarni, berdasarkan hasil autopsi pertama, Amel memberikan perlawanan saat terjadinya upaya perampasan nyawa Amel yang berujung terampasnya nyawa Amel," tuturnya.
Selain itu, Ricky Vinando menegaskan dirinya sangat sangsi diduga adanya penculikan sebelum pembunuhan. Pasalnya, papan penggilas baju yang berlumuran darah, itu adalah alat bukti petunjuk paling kuat bahwa perampasan nyawa dua korban diduga kuat benar terjadi di rumah korban sendiri, diduga kuat tak ada penculikan sebelum perampasan nyawa terjadi.
"Hasil autopsi pertama kan tulang tengkorak kepala korban patah. Dan ada papan penggilasan pakaian. Masa sih papan penggilas baju yang berlumuran darah itu sengaja diusap-usapkan pada bagian kepala korban supaya ikut berlumuran darah? Itu kan sangat tak masuk di akal. Jadi, benar- benar tidak ada logika hukumnya soal penculikan itu. Apalagi dua jaket berwarna merah ditemukan di dalam bak mandi, kalau ada penculikan, ya dibuang dilempar aja di tengah jalan, kenapa harus dibawa lagi pulang kembali ke kediaman korban," tegasnya.
Dari alat bukti petunjuk- petunjuk itu ditambah keterangan saksi Suparman, saksi Pak RT Dede dan saksi Wawan yang bisa sebagai saksi berantai, Ricky sangat meragukan dugaan adanya penculikan sebelum peristiwa perampasan nyawa dua korban tersebut.
Menurutnya, jarak kematian korban pertama dengan kedua selisih 5 jam juga bisa menjadi alat bukti petunjuk yang sangat kuat yakni diduga kuat tidak ada penculikan.
"Karena tak masuk diakal apabila menculik satu korban dulu yaitu ibunya Amel, bunuh, lalu culik Amel, terus sudah itu dari tempat pembunuhan dibawa lagi ke kediamannya yang jadi tempat menculik korban dari awal, dibalikin lagi ke kediamannya. Jadi, soal penculikan adalah alasan yang sama sekali tidak berdasar hukum dan melawan akal sehat hukum pidana, terlebih lagi di kamar Amel dibagian dinding ada percikan darah bahkan selimut berdarah, ini indikasi kuat Amel diduga kuat mulai dihajar dari dalam kamarnya sendiri hingga dia lari sampai ke dekat dapur bahkan ruang tamu karena dikejar-kejar," terangnya.
Lebih lanjut, Ricky juga menilai apabila ada penculikan tentu penculik tak akan capek-capek harus membawa dua korban kembali ke kediamannya hanya untuk meneteskan darah segar dari kepala dua korban agar banyak ceceran darah di kediaman dua korban. Apalagi, ada ember biru besar di belakang mobil yang jadi tempat penyembunyian dua korban.
"Kenapa ada ember di situ? Siapa yang membawa ember itu? Kan di dalam rumah bahkan dekat pintu belakang banyak genangan darah bercampur air yang kata saksi Suparman melihat diduga Yosef diduga menyiram darah pakai air lalu ditimpali Yosef bahwa dirinya membereskan rumah yang berantakan," ujar Ricky Vinando.
"Soal rumah korban yang tidak dikunci atau digembok pada malam kejadian, nah itu bagaimana pelaku bisa sangat mengetahui aksinya akan sangat mudah karena tidak digembok pada malam itu? Tahu dari siapa? Kok bisa sangat menguasai TKP dan waktu? Terus kok bisa tahu persis di dalam hanya ada 2 wanita? Kenapa tidak beraksi pada tanggal 14 Agustus misalnya atau 16 Agustus. Kenapa harus 17 Agustus malam? Ada apa ini? Kok bisa dimandikan terlebih dahulu 2 korban? Ini tak masuk di akal apabila pelakunya tidak mengetahui sejak awal bahwa hanya ada 2 wanita saja di dalam rumah. Bahkan yang aneh di kamar Amel ada cairan pembersih lantai, kok itu bisa berbarengan dengan peristiwa berdarah dan banyaknya genangan darah bercampur air?," pungkasnya.
Mengutip Tribunnews, kuasa hukum Yosef Hidayah, Rohman Hidayat mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan terbaru yang dilakukan penyidik dipastikan bahwa kliennya tidak terlibat dalam kasus tersebut.
Dalam materi pemeriksaan Yosef, kata Rohman, penyidik kembali menanyakan detik-detik ditemukannya Tuti Suhartini (55) dan Amalia Mustika Ratu (23).
"Jadi, Yosef menyampaikan kepada penyidik bahwa sebelum ke kantor polisi Jalancagak pukul 07.24 WIB dia sempat menghubungi HP Amel," ujar Rohman Hidayat beberapa waktu lalu.
Menurut Rohman, Yosef sudah merasakan ada kejanggalan saat dia pulang ke rumah. Namun, ia belum menduga terjadi pembunuhan.
Kliennya itu kemudian mencoba menghubungi anaknya yang menjadi korban kasus Subang yakni Amel, tapi tidak direspons. Kemudian, laniut Rohman, Yosef menghubungi Yoris, anaknya yang lain, di jam yang sama.
"Telepon Yoris dijawab oleh istrinya. Di situ Yosef menyampaikan ke istri Yoris bahwa di rumah ada penculikan. Kenapa berpikir penculikan, karena pada saat itu Yosef melihat di jalan sebelah pintu masuk, ada bekas ban mobil," ujarnya.










