Waspada! Ahli Ini Beberkan Tanda-tanda Jika Omicron Telah Masuk Indonesia

Waspada! Ahli Ini Beberkan Tanda-tanda Jika Omicron Telah Masuk Indonesia

Effendy Wongso

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Waspada! Ahli ini beberkan tanda-tanda jika Omicron telah masuk Indonesia. Virus corona varian baru Omicron, memang menjadi perhatian semua pemangku kepentingan di dunia, khususnya di Indonesia. Guru Besar FKUI Prof Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan, Covid-19 varian Omicron berdampak pada tes PCR yang selama ini dilakukan untuk mendeteksi kasus-kasus Covid-19.

Tjandra menjelaskan, mutasi pada spike protein varian Omicron di posisi 69-70 menyebabkan fenomena S gene target failure (SGTF), yaitu saat gen S tidak dapat terdeteksi PCR.

Ia menyebut, varian Omicron ini masih terbilang baru dan belum dapat diketahui pasti seberapa ganasnya. Kendati demikian, varian yang pertama dideteksi di Afrika Selatan itu diklaim memiliki kemampuan menular lebih cepat ketimbang varian Delta.

“Tidak terdeteksinya gen S pada pemeriksaan PCR dapat dijadikan indikasi awal untuk kemungkinan yang diperiksa adalah varian Omicron, yang tentu perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memastikannya,” papar Tjandra dalam keterangannya di Jakarta, Kamis 2 Desember 2021.

Namun demikian, tidak terdeteksinya gen S bukan menjadi masalah utama lantaran masih ada gen-gen lain yang bisa dideteksi, sehingga secara umum PCR masih dapat berfungsi.

Hal ini justru dapat memudahkan untuk mengetahui mana yang merupakan varian Omicron atau yang lainnya. Tetapi, untuk memastikannya lagi butuh dilakukannya sekuensing atau WGS.

“Itulah tanda-tanda jika varian Omicron sudah masuk Indonesia. Kalau di suatu daerah ditemukan peningkatan sampel laboratorium yang menunjukkan S gene target failures (SGTF), maka ini mungkin dapat menjadi suatu indikasi sudah beredarnya varian Omicron,” imbuh Tjandra, seperti dikutip Terkini.id dari Kumparan.com, Kamis 2 Desember 2021.

Sayangnya, kemampuan sekuensing di Indonesia masih terbilang rendah. Menurut data GISAID per 1 Desember 2021, baru 9.265 sekuens yang dilaporkan. Padahal, Indonesia memiliki kasus konfirmasi hingga lebih empat juta. Ini membuat porsi sekuens sekitar 0,2 persen dari total kasus.

“Sementara, Singapura sudah memasukkan 10.151 sekuens, Afrika Selatan dengan penduduk tidak sampai 60 juta memasukkan 23.917 sekuens, serta India bahkan sudah memasukkan 84.296 sekuens,” beber Tjandra.

Untuk itu, mantan Direktur WHO Asia Tenggara itu bilang agar bisa lebih cepat mendeteksi berbagai varian baru termasuk Omicron, pemerintah Indonesia harus bisa meningkatkan kemampuan sekuensing yang masih kalah tertinggal dari negara-negara lain.

Tjandra memaparkan, penduduk Indonesia kira-kira adalah seperempat penduduk India, sehingga kalau India sekarang sudah memeriksa lebih 80 ribu sampel maka seharusnya dapat juga sudah memeriksa sekitar 20 ribu sampel.