Waduh! Temui DPP PDIP, Teddy Sulistio Ngaku Dipalak Rp 500 Juta untuk Kursi Jabatan

Waduh! Temui DPP PDIP, Teddy Sulistio Ngaku Dipalak Rp 500 Juta untuk Kursi Jabatan

Ratna

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Mantan Ketua DPC PDIP Salatiga, Teddy Sulistio membeberkan hasil pertemuannya saat memenuhi undangan untuk menemui Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, di kantor DPP di Jakarta.

Teddy Sulistio tak ragu-ragu menceritakan semua masalah yang terjadi dalam internal PDIP di wilayahnya. Dia secara blak-blakan membocorkan soal pengalaman dipalak oleh oknum partai hanya untuk posisi strategis di kursi legislatif.

"Kader saya itu bilang sama saya, kalau harus ada patungan untuk jabatan. Kalau jumlah uang ratusan juta di kota besar, mungkin. Untuk Salatiga, dua ratus tiga ratus (juta) lah, itu kata si oknum," beber Reddy mengutip, Berita Politik RMOLJateng, Senin 8 November 2021

"Mana ada itu uang ratusan juta untuk posisi Ketua DPRD, karena posisi itu bagian dari penugasan partai," sambungnya.

Teddy pun menilai bahwa tindakan pemalakan untuk kursi legislatif tersebut tidaklah wajar. Menurutnya hal tersebut sudah kewenangan partai untuk memberikan posisi penugasan kepada kader.

"Langsung saya tanya, siapa orangnya. Enggak pantes banget melakukan itu. Itu ada di Panti (Panti Marhaen), saya ketuanya loh," pungkas Teddy.

Selain itu, Teddy juga membeberkan janji DPP PDI Perjuangan yang menyebutkan bahwa jika Ketua DPC di Kabupaten/Kota mau jadi walikota akan diprioritaskan kalau perolehan suaranya minimal mencapai 30 persen.

"Tapi, saya enggak jadi walikota. Rekomendasi diberikan kepada Bung Dance. Diajak omong saja tidak, kan jengkel. Tapi kami siap, karena itu tugas partai, perintah partai," imbuhnya.

Teddy pun memastikan, alasan di balik keputusannya mundur dari jabatan Ketua DPC PDIP serta anggota DPRD Salatiga bukan karena tidak bisa tiga periode menjabat Ketua DPRD Salatiga.

"Saya jengkel (ada yang ) malakin kader saya. Ada oknum yang malakin kader saya minta uang Rp 500 juta kalau ingin jabatan," ungkap Teddy.

Buntut dari kejengkelannya itu, akhirnya Teddy memutuskan mengundurkan diri. Sehingga, Teddy pun membantah tuduhan yang selama ini geger terkait pengunduran dirinya karena 'mutung' tidak dapat menduduki jabatan yang diinginkan.

"Enggak ada urusannya juga, kecewa karena tidak bisa tiga periode Ketua DPRD Salatiga, saya miliknya rakyat Salatiga, saya miliknya partai. Sekali lagi saya tekankan, bukan karena mutung, bukan karena kecewa, saya mengundurkan diri. Itu hal yang kecil, teramat kecil kalau dijadikan alasan bagi petarung seperti saya," terangnya.

Sebagai pribadi yang dibesarkan dari partai, Teddy menegaskan tak akan menjadi sosok kacang yang lupa pada kulitnya. Ibarat kalah perang, ia mengatakan bahwa dirinya mengundurkan diri dengan cara terhormat bukan karena mutung seperti anak kecil yang berguling-guling karena tak mendapatkan permen.

"Saya sudah pernah dimuliakan partai ini, saya anak senior PDIP, kalau mundur kurang seminggu momen Pilkada, Pileg, atau Pilpres, itu baru ngerjain namanya," ujarnya.

Adapun soal pengunduran dirinya yang masih dalam rentang tiga tahun menuju Pilkada Salatiga, dianggapnya sebagai sebuah proses pendewasaan.

"Sebagai petarung seperti saya, bukan kerena mutung. Bu Mega itu bagi kami adalah Matahari, sehingga etikanya memang harus berpamitan yang baik. Tetap 'unggah-ungguh' menjadi yang diutamakan," ucapnya.

Teddy juga tak menggubris bila banyak pihak menyebut mundurnya ia dari Ketua DPC PDIP Salatiga karena dianggap satu bentuk kekecewaan. Terlebih sekadar mencari popularitas belaka.

"Perlu diingat, ini masih masih tiga tahun (Pilkada Salatiga). Saya mundur bukan karena saya kecewa, tapi semata-mata karena saking cintanya kepada partai," jelas Teddy.