Terkini.id, Jakarta – PT Vale Indonesia Tbk (“PT Vale” atau “Perseroan”, IDX Ticker: INCO) telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (“RUPSLB”) secara virtual melalui aplikasi eASY.KSEI yang disediakan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Untuk diketahui, aplikasi eASY.KSEI menjadi sarana pertemuan secara virtual yang diakui meski tanpa kehadiran fisik pemegang saham dan/atau kuasanya, sebagaimana diizinkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pada RUPSLB tersebut, pemegang saham menerima pengunduran diri Agus Superiadi dari jabatannya sebagai Direktur Perseroan, serta memberikan pembebasan dan pelunasan dari segala tindakan hukum yang dilakukan selama menjabat.
Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Agus Superiadi atas kontribusi yang berharga dan dedikasi beliau terhadap Perseroan.
Berdasarkan hal tersebut, maka susunan Direksi Perseroan adalah sebagai berikut:
Presiden Direktur : Febriany Eddy
Wakil Presiden Direktur : Adriansyah Chaniago
Direktur : Bernardus Irmanto
Direktur : Dani Widjaja
Direktur : Vinicius Mendes Ferreira
Selanjutnya Perseroan akan memenuhi persyaratan peraturan yang berlaku sehubungan dengan perubahan susunan Direksi Perseroan tersebut.
Investasi Smelter
Dalam konferensi pers dengan wartawan via virtual, Presiden Direktur Febriany Eddy juga menjelaskan progress rencana investasi pabrik pengolahan nikel atau smelter di Bahodopi Sulawesi Tengah dan Pomalaa Sulawesi Tenggara.
"Sejauh ini progressnya positif. Proses negosiasi untuk financing sedang berlangsung. Perizinannya juga sedang berjalan," jelas Febriany.
Sementara, Bernardus Irmanto, mengungkapkan, untuk investasi dua pabrik itu, angkanya masih bisa berubah karena masih perkiraan awal.
"Kita ancer ancer, investasi untuk pabrik di Bahudopi. Itu di kisaran USD 1,5 miliar, untuk membangun smelter dengan teknologi RKEF (Rotary Kiln-Electric Furnace) berkapasitas 73 ribu veronickel," terang dia.
Sedangkan untuk pabrik di Pomalaa, diperkirakan memakan investasi USD 2,6 miliar untuk menghasilkan 40.000 ton dalam bentuk MSP.
Bernardus kembali menegaskan, bahwa angka itu masih bisa berubah karena masih perkiraan awal.










