Terkini.id, Jakarta – Imam Islamic Center of New York, Muhammad Shamsi Ali menolak dengan tegas upaya penyamaan agama-agama.
Pasalnya, Imam Sham Ali menilai bahwa upaya penyamaan agama-agama ini menentang sunnatullah dan kodrat manusia.
Hal ini ia sampaikan ketika menyampaikan sikapnya soal upaya penyatuan agama Kristen, Yahudi, dan Islam ke dalam Abrahamic Religion atau agama Ibrahim.
Imam Shamsi Ali menilai bahwa upaya penyatuan ini salah dan irrasional dalam banyak alasan.
“Upaya ini menjadi bagian dari ‘mu’amarah alami’ (konspirasi global u/ menghilangkan urgensi dan peranan agama dalam kehidupan,” kata Imam Shamsi Ali melalui akun Twitter pribadinya pada Rabu, 10 November 2021.
Ia menjelaskan bahwa dalam keyakinan Islam, agama tidak diasosiasikan dengan siapa dan apa pun.
Nama Islam, lanjut Imam Shamsi Ali, diambil dari esensi agama itu sendiri, yakni silm, salam, islam, wa istislam.
“Selain itu, Islam tidak dimulai dengan Ibrahim. Islam diyakini agama seluruh masa, manusia, sejak Adam. Bukan dibatasi dengan Ibrahim,” terangnya.
Oleh sebab itulah, Direktur Jamaica Muslim Center (JMC) ini menilai bahwa upaya penyatuan agama merupakan logika terbalik.
Biasanya, menurut dia, pihak yang paling gandrung ingin menyatukan agama itu adalah mereka yang merasa “pahlawan pluralitas”.
“Pluralitas itu mengharuskan adanya diversitàs (keragaman). Kalau disatukan itu menentang keragaman sebagai sunnatullah,” tegasnya.
Imam Shamsi Ali menilai bahwa agama memang memiliki kesamaan-kesamaan, namun tidak bisa disamakan.
Ia mencontohkan, agama sama-sama percaya Tuhan, tapi secara mendasar berbeda dalam melihat siapa dan bagaimana menyembah Tuhan.
“Kesyirikan dalam Islam bukan pada percaya Tuhan. Tapi pada ‘bagaimana melihat dan menyembah Tuhan’,” katanya.
Selain itu, Imam Shamsi Ali juga menilai bahwa tidak ada orang beragama mana saja yang mau agamanya disamakan.
“Anda tanya ke Katolik, apakah agama anda sama dengan Islam? Mereka akan tegas jawab: Tidak. Karena agama Katolik percaya Yesus sebagai anak Tuhan atau Tuhan Inkarnasi. Memaksakan menyamakan berarti merusak,” tegasnya.
Presiden Nusantara Foundation ini lalu menyinggung bahwa konsep toleransi, kerukunan, atau moderasi itu bukan menyatukan.
Bukan juga meyakini atau mengamalkan agama orang lain, Ttapi berkomitmen dengan agama masing-masing sambil memberi ruang yang sama pada agama lain di sekitar kita.
“Itu sikap moderat.. jangan atas nama moderasi tapi ekstrim,” katanya.
Imam Shamsi Ali lalu menyinggung bahwa ia adalah seorang aktivis interfaith tingkat global, yakni di US, di Eropa, Australia, danNew Zealand.
Bukan hanya itu, ia juga bagian dari Doha interfaith conference.
“Tapi saya menolak tegas upaya penyamaan agama-agama. Sekali lagi itu menentang sunnatullah dan kodrat manusia,” tegas Imam Shamsi Ali.










