Terkini, Makassar - Haji Mansur Gessa Daeng Sibali, seorang tokoh besar yang didedikasikan untuk menjaga warisan budaya Sulawesi Selatan, adalah figur sentral di balik terbentuknya Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) di wilayah ini.
Sebagai Anrong Guru Kanjilo, beliau memegang mandat penting dan dipercayakan menjadi formatur pertama berdirinya MAKN Sulawesi Selatan.
Dalam kapasitas itu, H. Mansur bekerja dengan penuh semangat, tanpa mengenal lelah. Hampir dua tahun lamanya ia mengorbankan waktu, tenaga, dan materi, mengunjungi pelosok Sulawesi Selatan, menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan setempat, satu demi satu.
Dengan tekad yang luar biasa, ia berhasil memverifikasi 42 kerajaan sebagai anggota sah dari Dewan Kerajaan MAKN.
Fondasi yang dibangunnya tidak hanya kokoh tetapi juga menjanjikan masa depan yang cerah bagi pelestarian adat dan budaya di Sulawesi Selatan.
Namun, meski jerih payahnya tidak terukur, perjalanan H. Mansur dalam memajukan MAKN berujung pada kisah yang memilukan.
Beberapa orang yang ia rekrut, meski tanpa dasar nasab yang jelas, mulai merongrong dari dalam. Mereka, dengan penuh kelicikan, melakukan upaya pembusukan karakter terhadap dirinya.
Tuduhan tak berdasar, fitnah, dan manuver politis yang kotor mulai dilancarkan. Ironisnya, mereka yang pernah ia angkat dan percayai kini justru menjadi duri dalam daging.
Fitnah tersebut akhirnya mencapai puncaknya ketika ia dinyatakan sebagai penyebab tidak aktifnya Dewan Kerajaan dan DPW yang justru lahir dari tangannya sendiri.
Sebuah ironi besar, karena di saat ia seharusnya menikmati buah dari perjuangan panjangnya, ia malah disingkirkan secara tidak adil.
Dewan Kerajaan dan DPW yang pernah menjadi simbol perjuangannya tiba-tiba dibubarkan, diakhiri begitu saja. H. Mansur yang pernah menjadi penggerak utama justru dimisionerkan tanpa penghargaan sedikit pun.
MAKN, yang dulu terbentuk berkat dedikasinya, kini seperti kacang lupa kulitnya, meninggalkan sosok yang berjasa besar untuk berdiri sendiri dalam kesunyian, meratapi perjuangannya yang diabaikan.
Kisah H. Mansur Gessa Daeng Sibali adalah kisah seorang pejuang budaya yang tersisihkan di tengah dinamika politik dan ambisi pribadi.
Sumbangsihnya pada MAKN Sulawesi Selatan tidak pernah bisa dihapus, meski diabaikan oleh mereka yang menikmati hasil keringatnya. (rls)









