Terkini.id, Jakarta – Tagar NKRI Bangkrut menjadi trending satu di media sosial Twitter, pada, Jumat 15 Juli 2022.
Trendingnya tagar NKRI Bangkrut ini diisi oleh ribuan cuitan warganet yang menyertakan tagar ini, hingga kritikan-kritikan pedas terhadap pemerintah pun menghiasi tagar ini.
Seperti warganet Yulie Reborn yang dalam tagar ini menyebutkan penyebab negara bangkrut bukan karena subsidi tetapi karena maraknya pejabat koruptor.
“Negara Bangkrut Bukan Karena Subsidi untuk Rakyat tapi Karena Maraknya Korupsi Para Pejabat. #NKRIBangkrut #NKRIBangkrut”, cuit Yulie Reborn.

Tingginya kasus korupsi di Indonesia membuat posisi Indonesia berada pada peringkat 96 dari 180 negara berdasarkan indeks persepsi korupsi.
Sejumlah kasus korupsi yang tejadi di Indonesia membuat negara mengalami kerugian dalam jumlah yang besar.
Selain Yulie Reborn, warganet Duck Busterr pun turut meramaikan tagar NKRI Bangkrut dengan cuitan kritisnya.
Menurut Duck Busterr, masyarakat yang masih memiliki kewarasan tentu akan mengrkitisi segala kebijakan pemerintah yang memberatkan rakyat.
Terlebih, menurutnya, harga-harga kebutuhan melambung tinggi yang semakin menekan ekonomi rakyat.
“Masyarakat yang masih pada waras pastu memilih untuk berisik, mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang saat ini hanya menyusahkan rakyat saha dengan kenaikan harga-harga bahan pkoknya, yang masih bebal dan ogah untuk mengkritisi pemerintah, spertinya kejiwaan kalian perlu diperiksa #NKRIBangkrut”, cuit netizen Duck Busterr.

Seperti diketahui, Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga menyampaikan bahwa Indonesia berpotensi mengalami resisi ekonomi.
Hasil survey Bloomberg menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam peringkat 14 dari 15 negara Asia yang memiliki potensi besar mengalami resisi ekonomi.
Kendati demikian, Menkeu Sri Mulyani menyampaikan bahw apihaknya tidak akan terlena dan akan tetap waspada dengan segala kemungkinan yang mengancam dan akan mengerahkan semua instrument kebijakan.
“Kami tidak akan terlena, kami tetap waspada”, kata Menkeu Sri Mulyani di pertemuan G20.
Dengan peringkat yang diduduki Indonesia, survey Bloomberg menyatakan kemungkinan resisi ekonomi untuk Indonesia sebesar tiga persen, jauh dari Sri Lanka dengan potensi 85 persen dan menduduki peringkat pertama.










